Banten

ChatGPT Meledak di Indonesia! Masuk 10 Besar Dunia, OpenAI Ungkap Potensi Besar yang Belum Digali

Abdurahman | 3 September 2026, 23:12 WIB
ChatGPT Meledak di Indonesia! Masuk 10 Besar Dunia, OpenAI Ungkap Potensi Besar yang Belum Digali
Head of Policy OpenAI Southeast Asia Sandy Kunvatanagarn dalam diskusi yang dilaksanakan OpenAI di Jakarta, Kamis (3/9/2026) (Foto: ANTARA/Livia Kristianti)

AKURAT BANTEN– Indonesia semakin menunjukkan taringnya dalam perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Penggunaan ChatGPT di Tanah Air ternyata bukan sekadar tren sesaat.

OpenAI mengungkapkan bahwa Indonesia telah masuk 10 besar negara di dunia dengan jumlah pengguna aktif mingguan ChatGPT terbanyak.

Angka tersebut menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat Indonesia memiliki tingkat adopsi AI yang sangat tinggi. Namun, di balik tingginya jumlah pengguna itu, masih terdapat pekerjaan besar yang harus dilakukan.

Sebab, menurut OpenAI, potensi terbesar AI justru belum sepenuhnya digali karena sebagian masyarakat dan pelaku usaha masih menggunakan AI untuk kebutuhan dasar.

Dengan kata lain, Indonesia sudah memiliki jumlah pengguna yang besar. Tantangan berikutnya adalah bagaimana mengubah kebiasaan menggunakan AI menjadi kemampuan untuk menghasilkan produktivitas, inovasi, dan nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi.

Baca Juga: Geger! Pengasuh Ponpes Al-Husna Jepara Sebut Terima MBG Hukumnya Haram, Ini Alasannya

Indonesia Bukan Sekadar Pengguna ChatGPT

Tingginya penggunaan ChatGPT di Indonesia menjadi salah satu indikator semakin cepatnya masyarakat beradaptasi dengan teknologi AI.

ChatGPT kini digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mencari informasi, membuat tulisan, membantu pekerjaan, belajar, melakukan analisis, hingga mendukung aktivitas bisnis.

Namun, data OpenAI menunjukkan fakta yang lebih menarik.

Indonesia tidak hanya berada di 10 besar pengguna aktif mingguan ChatGPT secara global, tetapi juga termasuk 5 persen teratas dunia dalam penggunaan reasoning tokens.

Fitur tersebut digunakan untuk membantu menyelesaikan persoalan yang lebih kompleks dan membutuhkan proses penalaran serta analisis yang lebih mendalam.

Artinya, sebagian pengguna di Indonesia sudah mulai bergerak dari sekadar menggunakan AI untuk pertanyaan sederhana menuju pemanfaatan teknologi untuk pekerjaan yang lebih kompleks.

Indonesia sudah memiliki jumlah pengguna AI yang besar. Tantangan sesungguhnya kini bukan lagi bagaimana membuat masyarakat menggunakan AI, tetapi bagaimana mendorong mereka naik kelas dari pengguna dasar menjadi pengguna AI yang mampu menciptakan nilai.

Baca Juga: Tembus 668 Orang! Dugaan Keracunan MBG di Sidoarjo Meluas, Pasien Tersebar di Sejumlah Rumah Sakit

Fakta Menarik: Codex Banyak Dipakai Profesional Nonteknis

Fenomena lain yang tidak kalah menarik muncul dari penggunaan Codex, agen AI yang pada awalnya dikembangkan untuk membantu pekerjaan pemrograman atau coding.

Di Indonesia, pemanfaatannya ternyata tidak hanya didominasi oleh programmer.

OpenAI mencatat lebih dari 50 persen penggunaan Codex di Indonesia berasal dari kalangan profesional nonteknis, termasuk bidang hukum, riset, dan pemasaran.

Fenomena tersebut membuat Indonesia masuk jajaran lima besar negara dengan pengguna Codex secara global.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pemanfaatan AI mulai menembus batas dunia teknologi.

AI semakin dipandang sebagai alat kerja yang dapat membantu berbagai profesi, bahkan pekerjaan yang sebelumnya tidak identik dengan teknologi komputer.

Baca Juga: Kebakaran TPA Putri Cempo Solo Hebat, Api Membumbung hingga Puncak Gunungan Sampah

Masalah Besarnya Ada di Capability Gap

Di balik pencapaian tersebut, OpenAI mengingatkan adanya persoalan yang tidak boleh diabaikan, yakni kesenjangan kapabilitas atau capability gap.

Jumlah pengguna AI memang tinggi, tetapi tingkat kedalaman penggunaannya belum merata.

Sebagian besar masyarakat dan pelaku usaha masih memanfaatkan AI untuk tugas-tugas dasar.

Padahal, AI dapat digunakan untuk pekerjaan yang jauh lebih bernilai, seperti analisis data, otomatisasi proses bisnis, penelitian, pengembangan produk, pengambilan keputusan hingga peningkatan efisiensi perusahaan.

Kesenjangan inilah yang dianggap menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar Indonesia.

Jika tidak segera diatasi, Indonesia berpotensi memiliki jutaan pengguna AI tetapi belum mampu mendapatkan manfaat ekonomi maksimal dari teknologi tersebut.

Baca Juga: Kebakaran TPA Putri Cempo Solo Hebat, Api Membumbung hingga Puncak Gunungan Sampah

OpenAI Ungkap Kunci Agar Indonesia Tidak Kehilangan Momentum

Head of Policy OpenAI Southeast Asia, Sandy Kunvatanagarn, menyebut pembangunan kemitraan menjadi salah satu kunci untuk mengoptimalkan pertumbuhan ekosistem AI Indonesia.

Kolaborasi diperlukan antara penyedia teknologi global, pemerintah, industri, dan masyarakat sipil.

Menurut OpenAI, penggunaan AI juga harus bergerak dari level dasar menuju pemanfaatan yang lebih canggih dengan tetap mempertimbangkan konteks serta kearifan lokal Indonesia.

Karena itu, OpenAI bersama Southeast Asia Policy Institute (SEAPPI) menghadirkan studi bertajuk “Menutup Kesenjangan Kapabilitas Kecerdasan Artifisial di Indonesia”.

Studi tersebut dimaksudkan untuk memahami kondisi ekosistem AI Indonesia sekaligus merumuskan rekomendasi yang dapat membantu mempercepat pemanfaatan AI.

Baca Juga: 8 Komoditas Sudah Swasembada, Kementan Kini Bidik Bawang Putih dan Hortikultura pada 2027

Potensi Ekonomi AI Indonesia Capai Rp5,8 Kuadriliun

Besarnya peluang yang ada membuat perkembangan AI tidak lagi sekadar persoalan teknologi.

SEAPPI bersama OpenAI memperkirakan AI berpotensi memberikan kontribusi hingga 366 miliar dolar AS atau sekitar Rp5,8 kuadriliun terhadap ekonomi Indonesia pada 2030.

Namun, angka tersebut bukan sesuatu yang otomatis akan diterima Indonesia.

Potensi tersebut dapat hilang apabila kesenjangan kemampuan dalam menggunakan AI tidak segera ditangani.

Karena itu, Indonesia harus memastikan adopsi AI tidak berhenti pada penggunaan chatbot untuk membuat teks atau mencari jawaban.

AI harus mulai dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas perusahaan, membantu UMKM, memperkuat riset, mempercepat pelayanan publik dan menciptakan produk-produk baru.

Baca Juga: BeZakat 2026 Dibuka hingga 7 September, Ada Beasiswa Kuliah untuk Keluarga Kurang Mampu

Talenta AI Menjadi Penentu

Salah satu persoalan yang harus segera dijawab adalah ketersediaan talenta digital.

Teknologi AI berkembang sangat cepat. Tanpa sumber daya manusia yang memiliki kemampuan memadai, Indonesia akan kesulitan bergerak dari posisi konsumen menjadi produsen teknologi.

Penguatan kemampuan AI karena itu perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Pelatihan tidak hanya dibutuhkan oleh programmer atau pekerja teknologi. Profesional di bidang hukum, pemasaran, pendidikan, kesehatan, keuangan, riset dan berbagai sektor lainnya juga perlu memahami bagaimana AI dapat digunakan secara produktif.

Semakin banyak profesi yang mampu menguasai AI, semakin besar pula peluang peningkatan produktivitas nasional.

Baca Juga: 512 Santri Diduga Keracunan Menu MBG, BGN Suspend SPPG Kalitengah 30 Hari

Pemerintah Juga Dituntut Menyiapkan Aturan yang Jelas

Pertumbuhan AI membutuhkan ekosistem yang tidak hanya inovatif, tetapi juga memiliki kepastian regulasi.

Pemerintah Indonesia saat ini terus menyiapkan kerangka kebijakan AI agar teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kemkomdigi, Edwin Hidayat Abdullah, sebelumnya menegaskan bahwa kebijakan AI diarahkan untuk menciptakan kecerdasan kolektif sekaligus mengoptimalkan kesejahteraan masyarakat.

Kepastian aturan menjadi penting agar industri memiliki panduan yang jelas dalam mengembangkan dan menggunakan AI.

Di sisi lain, regulasi juga harus mampu menjaga keamanan, privasi, serta penggunaan AI yang bertanggung jawab.

Baca Juga: KPK Usut Pengadaan Smartboard di Bogor, Proyek IFP Rp55,35 Miliar di Kota Tangerang Ikut Disorot

Indonesia Harus Naik Kelas

Masuknya Indonesia ke dalam 10 besar pengguna aktif mingguan ChatGPT merupakan pencapaian yang menarik.

Tetapi posisi tersebut seharusnya tidak menjadi tujuan akhir.

Indonesia memiliki modal besar berupa populasi pengguna digital yang luas, masyarakat yang cepat beradaptasi terhadap teknologi, serta potensi talenta muda yang dapat dikembangkan.

Persoalannya adalah bagaimana seluruh modal tersebut dikonversi menjadi kekuatan ekonomi.

Jika jutaan pengguna ChatGPT hanya menggunakan AI untuk tugas-tugas sederhana, dampaknya tentu tidak akan sebesar jika teknologi tersebut digunakan untuk menciptakan bisnis, melakukan riset, mengembangkan produk, meningkatkan efisiensi dan memecahkan persoalan nyata.

Karena itu, “naik kelas” menjadi kata kunci.

Indonesia harus bergerak dari sekadar menjadi pengguna AI menuju negara yang mampu membangun, mengembangkan, dan memanfaatkan teknologi AI sesuai kebutuhan nasional.

Baca Juga: Geruduk Kementerian ATR/BPN, Massa AKAMSI Tuntut Transparansi HGB Sanur

ChatGPT Meledak, Kini Indonesia Dihadapkan pada Pilihan Besar

Ledakan penggunaan ChatGPT di Indonesia sebenarnya merupakan kabar baik.

Indonesia telah menunjukkan bahwa masyarakatnya tidak alergi terhadap teknologi baru. Bahkan, data OpenAI memperlihatkan adopsi AI Indonesia telah mencapai level yang diperhitungkan secara global.

Namun, momentum tersebut hanya akan memberikan dampak besar apabila diikuti peningkatan kemampuan.

Top 10 pengguna ChatGPT bukan garis finis. Itu justru garis start.

Indonesia kini memiliki kesempatan untuk mengubah tingginya penggunaan AI menjadi produktivitas, inovasi dan kekuatan ekonomi.

Jika kesenjangan kapabilitas berhasil dipersempit, talenta AI diperkuat, inovasi lokal mendapat dukungan dan pemerintah mampu menciptakan regulasi yang jelas, maka ledakan penggunaan ChatGPT tidak berhenti sebagai fenomena teknologi.

Ia dapat menjadi salah satu pintu masuk menuju transformasi ekonomi digital Indonesia.

Dan di situlah potensi terbesar AI Indonesia sebenarnya berada—bukan pada berapa banyak orang yang menggunakan ChatGPT, tetapi seberapa besar nilai yang berhasil mereka ciptakan dengan bantuan AI.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman