Viral Pernyataan Menag soal Fir’aun, Sekjen Kemenag Ungkap Bagian yang Hilang dari Narasi

AKURAT BANTEN - Menteri Agama Nasaruddin Umar tidak pernah menyamakan pihak mana pun dengan Fir’aun.
Penegasan ini disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, sebagai respons terhadap sejumlah narasi yang dinilai memberikan framing menyesatkan atas pernyataan Menag terkait kisah Nabi Musa dan Fir’aun.
Kamaruddin menjelaskan bahwa Menag hanya mengingatkan agar setiap aspirasi yang ditujukan kepada pemerintah disampaikan dengan tetap mengedepankan akhlakul karimah.
Pesan tersebut merujuk pada teladan Nabi Musa dan Nabi Harun yang tetap diperintahkan berbicara dengan santun saat menyampaikan nasihat kepada Fir’aun.
Baca Juga: Portugal Gagal Menang, Thierry Henry Bongkar Kesalahan Cristiano Ronaldo yang Jarang Disadari
“Ini bukan berarti Menag menyamakan pemerintah dengan Fir’aun. Menag menegaskan bahwa orang seperti Firaun pun juga perlu diberikan bahasa santun. Lalu Menag melanjutkan dengan menegaskan, apalagi kalau orang yang akan diberi nasihat atau aspirasi itu bukan Fir’aun,” tegas Kamaruddin Amin di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Kamaruddin mengaku telah mendengarkan secara langsung rekaman pernyataan Menag ketika menjawab pertanyaan media di Makassar.
Menurutnya, dalam rekaman tersebut Menag secara jelas menutup penjelasannya dengan kalimat yang sering kali tidak dimuat dalam berbagai pemberitaan.
“Saya sudah mendengarkan rekaman pernyataan Menag saat ditanya media di Makassar. Dan dalam rekaman itu tegas disebutkan bahwa Menag menutup pernyataan dengan kalimat ‘apalagi kalau orang itu bukan Fir’aun’. Frasa ini yang tidak dituliskan dalam banyak narasi dan berita,” sambungnya.
Baca Juga: Messi Menggila Lawan Aljazair, Statistik Justru Bongkar Fakta Mengejutkan tentang Argentina
Lebih lanjut, Kamaruddin menilai pernyataan Menag justru menegaskan pentingnya etika dalam komunikasi.
Ia menjelaskan bahwa kepada sosok seperti Fir’aun yang dikenal kafir dan zalim saja, Nabi Musa dan Nabi Harun tetap diperintahkan menggunakan bahasa yang santun.
Karena itu, penyampaian aspirasi kepada Presiden Prabowo Subianto yang beragama Islam, beriman, dan tengah menjalankan berbagai program untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat semestinya dilakukan dengan cara yang baik.
“Mari hindari memotong kalimat hanya untuk memancing emosi dan memunculkan kesalahpahaman. Mari jauhi upaya adu domba dan tetap jaga persatuan bangsa,” ajak Sekjen Kemenag.
Untuk memberikan konteks yang utuh, berikut transkrip lengkap pernyataan Menag saat menjawab pertanyaan media di Makassar pada 14 Juni 2026 terkait aksi demonstrasi mahasiswa:
"Tentu (kita) punya kepentingan untuk mengingatkan kepada warga masyarakat, terutama umat beragama. Mari kita tetap menjunjung tinggi akhlakul karimah dalam melakukan komunikasi, ya kan?
Ya, jadi jangan sampai nanti kita melakukan suatu tujuan yang baik, tapi melalui cara-cara yang kurang baik, akhirnya kontraproduktif, ya kan? Mari kita mencontoh Nabi-lah. Yang baik itu baik, yang buruk itu buruk, tapi tidak menjelekkan... sampai ada ayatnya, kan?
Ya, Nabi Musa dan Nabi Harun diminta menghadap kepada Fir’aun, itu juga ditegaskan untuk menggunakan qaulan layyinan, bahasa yang santun terhadap Fir’aun. Jadi, orang seperti Fir’aun pun juga perlu diberikan bahasa santun. Apalagi kalau orang itu bukan Firaun, ya kan?
Jadi, saya pikir sebagai warga bangsa, umat beragama, dalam berbagai hal tetaplah kita mengedepankan akhlakul karimah di dalam menyampaikan gagasan. Enak kan kalau win-win solution? Jangan lose-lose solution. Inilah saya kira. Ya."
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Mahfud MD Bongkar Peta Pilpres 2029, 'Posisi Prabowo Bikin Lawan Harus Berhitung'
- 2Cawapres Prabowo 2029 Mulai Terbaca, Nama Dedi Mulyadi hingga AHY Masuk Hitungan
- 3Gugatan Pendidikan Gibran Masuk MK, Sikap 7 Partai Pengusung Kini Jadi Sorotan
- 4Terungkap! Alasan Jokowi Gabung PSI Mulai Dibaca Pengamat, Ada Tujuan Besarnya Sinyal Politik untuk Kaesang dan Gibran Menuju 2029
- 5Data Desil Bermasalah, Warga Garut Meninggal di RSUD Dr. Slamet Tanpa Penanganan
- 6Dedi Mulyadi Disebut Bisa Jadi Cawapres Prabowo 2029, Syarat Politik Ini Jadi Sorotan
- 7Pemilik Rumah Kontrakan Disebut Kena Pajak Baru 2027, Begini Fakta Sebenarnya dari Kemenkeu
- 8Wayne Rooney Minta Man City Dihukum Berat: “Turunkan Mereka ke Liga Terendah!”
- 9Wayne Rooney Minta Man City Dihukum Berat: “Turunkan Mereka ke Liga Terendah!”
- 10Bukan Cuma Soal Sponsor! Ini 4 Kesalahan Finansial Man City yang Kini Bisa Mengubah Nasib The Citizens








