Banten

BRIN Ungkap Rahasia Sistem Peringatan Dini Gempa Jepang yang Mampu Selamatkan Industri dan Kereta Cepat

Viona Sebastian Nolani | 1 Juni 2026, 12:40 WIB
BRIN Ungkap Rahasia Sistem Peringatan Dini Gempa Jepang yang Mampu Selamatkan Industri dan Kereta Cepat
Sistem Peringatan Dini Gempa Berperan Penting Lindungi Industri dan Infrastruktur Vital. (brin.go.id)

AKURAT BANTEN - Sistem peringatan dini gempa bumi atau Earthquake Early Warning System (EEWS) tidak hanya berfungsi memberikan informasi cepat kepada masyarakat saat terjadi gempa.

Akan tetapi juga memiliki peran strategis dalam melindungi sektor industri serta berbagai infrastruktur penting.

Hal tersebut disampaikan Dr. Mizan Bisri dari Asian Disaster Reduction Center (ADRC) dalam webinar kolaborasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang membahas pengembangan sistem peringatan dini gempa di Indonesia, Senin (18/5).

Mizan menjelaskan bahwa Jepang telah menerapkan sistem peringatan dini gempa secara luas di berbagai sektor.

Baca Juga: Tak Banyak yang Tahu, PUMMA Jadi Senjata Baru BRIN untuk Deteksi Tsunami di Indonesia

Selain digunakan oleh masyarakat umum, teknologi ini juga dimanfaatkan oleh operator kereta api, industri semikonduktor, pusat perbelanjaan, hingga perusahaan energi.

Sistem tersebut bekerja dengan memanfaatkan selisih waktu antara gelombang awal gempa yang terdeteksi dan gelombang utama yang menimbulkan guncangan lebih kuat.

“Tujuannya bukan hanya menyelamatkan manusia, tetapi juga melindungi aset dan menjaga keberlangsungan operasional bisnis,” jelas Mizan dalam Webinar Geohazard 2026 #02 yang diselenggarakan Pusat Riset Kebencanaan Geologi ini.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pengembangan sistem peringatan dini gempa di Indonesia saat ini menjadi bagian dari kerja sama penelitian antara Indonesia dan Jepang melalui program SATREPS 2025-2029.

Baca Juga: PKM Universitas Pamulang Serang Dorong Digitalisasi Absensi Guru di SMK Darma Nusantara

Program tersebut difokuskan untuk membangun sistem peringatan dini gempa dan respons terpadu di wilayah Jawa bagian barat sebagai tahap awal menuju penerapan sistem berskala nasional.

Menurut Mizan, Jepang telah memiliki pola kolaborasi yang melibatkan lembaga pemerintah, penyedia layanan, serta sektor swasta.

Data gempa yang diperoleh dari Japan Meteorological Agency (JMA) disalurkan melalui perusahaan perantara sebelum disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pengguna.

Karena karakteristik risiko setiap industri berbeda, sistem yang diterapkan juga dapat dirancang secara khusus.

“Setiap perusahaan memiliki kebutuhan perlindungan yang berbeda, sehingga sistemnya harus dikustomisasi sesuai jenis bisnis dan aset yang ingin dijaga,” ujarnya.

Salah satu implementasi yang banyak dikenal adalah penggunaan EEWS pada layanan kereta cepat Shinkansen.

Saat sensor mendeteksi aktivitas gempa, sistem secara otomatis menghentikan aliran listrik dan mengaktifkan rem darurat sebelum guncangan utama terjadi.

Seluruh proses berlangsung otomatis tanpa memerlukan intervensi manusia.

Mizan menilai teknologi tersebut terbukti efektif dalam mengurangi potensi kecelakaan maupun kerusakan ketika gempa besar melanda Jepang beberapa waktu lalu.

Walaupun operasional kereta sempat dihentikan sementara untuk proses inspeksi, sistem tersebut berhasil menjaga kereta tetap berada di jalurnya dan meminimalkan dampak kerusakan yang lebih besar.

Tidak hanya sektor transportasi, industri teknologi tinggi seperti semikonduktor juga menjadi salah satu pengguna utama sistem peringatan dini gempa.

Sektor ini sangat rentan terhadap getaran karena seluruh proses produksinya menuntut tingkat ketelitian dan presisi yang sangat tinggi.

Ia menjelaskan bahwa getaran akibat gempa dapat menyebabkan kerusakan pada produk semikonduktor bernilai tinggi hanya dalam waktu singkat.

Oleh sebab itu, banyak perusahaan di Jepang mengintegrasikan sistem peringatan dini gempa dengan mesin produksi sehingga proses manufaktur dapat dihentikan secara otomatis ketika gempa terdeteksi.

Beberapa perusahaan bahkan mengombinasikan sistem peringatan regional milik pemerintah dengan sensor lokal yang mereka pasang sendiri.

Strategi ini dinilai lebih optimal karena mampu meningkatkan tingkat akurasi sekaligus menekan kemungkinan munculnya peringatan palsu.

“Sebagian besar industri besar di Jepang menggunakan kombinasi sistem regional dan sensor lokal mereka sendiri,” kata Mizan.

Mizan juga menegaskan bahwa sistem peringatan dini gempa bukanlah satu-satunya solusi dalam mitigasi bencana.

Teknologi tersebut harus didukung oleh bangunan tahan gempa, kesiapsiagaan masyarakat, prosedur tanggap darurat yang baik, hingga pemeriksaan pascagempa yang memadai.

“Peringatan dini gempa hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan upaya pengurangan risiko bencana,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menekankan pentingnya sistem peringatan dini yang cepat dan akurat untuk membantu mengurangi dampak bencana gempa bumi.

“Melalui webinar ini, BRIN bersama BMKG terus mendorong pengembangan sistem peringatan dini gempa yang tidak hanya bermanfaat untuk masyarakat umum, tetapi juga dapat mendukung sektor industri dan transportasi di Indonesia," harap Adrin.

"Pengalaman Jepang diharapkan dapat menjadi pembelajaran penting dalam membangun sistem mitigasi gempa yang lebih siap dan terintegrasi di masa mendatang,” tambahnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.