BRIN-Australia Kolaborasi Lawan Tuberkulosis dan Malaria, Siapkan Inovasi Vaksin Baru

AKURAT BANTEN - Pusat Riset Vaksin dan Obat (PRVO) pada Organisasi Riset Kesehatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Infectious Disease Hybrid Workshop bersama The University of Queensland melalui Australian Infectious Diseases (AID) Research Centre.
Agenda yang berlangsung di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, Cibinong, Bogor, pada 11-13 Mei 2026 ini mempertemukan peneliti, akademisi, klinisi, pelaku industri, hingga pengambil kebijakan dari Indonesia dan Australia.
Workshop yang berlangsung secara hybrid tersebut bertujuan memperkuat kolaborasi riset di bidang penyakit menular antara kedua negara.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya strategis menghadapi berbagai ancaman penyakit infeksi global, seperti tuberkulosis, malaria, demam berdarah dengue, hingga resistensi antimikroba (antimicrobial resistance/AMR).
Baca Juga: Masa Tunggu Haji 26 Tahun Jadi Sorotan, BRIN Bongkar Penyebab dan Solusinya
Lewat forum ini, Indonesia dan Australia berupaya mempererat kerja sama ilmiah, memperluas pertukaran pengetahuan, serta mendorong inovasi dalam pengembangan diagnostik, terapi, dan vaksin.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Ni Luh Putu Indi Dharmayanti, menilai workshop tersebut sebagai momentum penting untuk memperkuat kemitraan riset penyakit menular antara Indonesia dan Australia.
Ia menyebut kedua negara di kawasan Asia-Pasifik memiliki tantangan kesehatan masyarakat yang relatif serupa, sehingga membutuhkan sinergi ilmiah yang kuat serta solusi inovatif berbasis sains.
"Melalui workshop ini, kami ingin memperkuat kemitraan antara peneliti, klinisi, dan pembuat kebijakan dari kedua negara, sekaligus mengidentifikasi prioritas riset bersama serta mendorong pertukaran teknologi dan pengetahuan," ujarnya.
Baca Juga: Heboh 19 WNI Ditahan Aparat Arab Saudi Selama Haji 2026, KJRI Buka Suara
Ia juga menjelaskan bahwa kerja sama ini membawa manfaat besar bagi kedua pihak.
Bagi Indonesia, kolaborasi tersebut dapat memperkuat kapasitas riset sekaligus membuka akses terhadap teknologi kesehatan terbaru.
Sementara bagi Australia, Indonesia dinilai menjadi lokasi strategis untuk pengembangan riset translasional di wilayah dengan tingkat kasus penyakit infeksi yang tinggi.
Direktur AID Research Centre, Antje Blumenthal, menyampaikan apresiasi kepada BRIN atas terselenggaranya workshop yang mempertemukan peneliti dari Indonesia dan Australia.
Menurutnya, forum ini menjadi langkah penting untuk menyatukan komunitas riset serta memperkuat kerja sama dalam menghadapi tantangan penyakit menular dan isu kesehatan global.
"Kita hanya dapat mengatasi tantangan besar ini jika bekerja bersama-sama dan menggabungkan keahlian dari berbagai sudut pandang," ungkapnya.
Antje menjelaskan bahwa AID Research Centre merupakan hasil kolaborasi antara The University of Queensland dan QIMR Berghofer Medical Research Institute di Brisbane.
Lembaga tersebut berfokus pada penelitian penyakit menular, mulai dari interaksi antara inang dan patogen, pengembangan vaksin, diagnosis penyakit infeksi, hingga studi epidemiologi dan pengawasan penyakit.
Di sisi lain, Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan bahwa Indonesia masih menghadapi tingginya kasus penyakit menular seperti tuberkulosis, malaria, pneumonia, hepatitis, dan AIDS.
Karena itu, BRIN memiliki peran penting dalam memperkuat riset kesehatan yang terintegrasi guna menghasilkan inovasi untuk antisipasi pandemi serta penanganan penyakit pada masa mendatang.
"BRIN juga berperan sebagai fasilitator dan pendukung bagi industri lokal dalam mengembangkan produk berbasis riset seperti obat-obatan, vaksin, dan alat kesehatan.
Kolaborasi antara BRIN dan AID Research Centre menjadi strategi penting dalam mempercepat penelitian dan inovasi kesehatan bagi kedua negara." ia menjelaskan.
Arif menambahkan bahwa berbagai tantangan kesehatan global saat ini justru membuka peluang besar untuk melahirkan inovasi melalui kerja sama lintas sektor dan lintas negara.
Pada hari pertama, workshop diisi sesi pleno mengenai kolaborasi riset penyakit infeksi, inovasi vaksin, pengembangan agen antimikroba, serta penelitian antimalaria dan antivirus.
Sesi tersebut menghadirkan pembicara dari BRIN, AID Research Centre, perguruan tinggi, dan industri kesehatan.
Memasuki hari kedua, peserta mengikuti diskusi tematik tentang tuberkulosis, malaria, dengue, serta resistensi antimikroba untuk menjajaki peluang riset bersama Indonesia-Australia.
Peserta juga berkesempatan mengunjungi laboratorium genomik dan fasilitas Animalium di Kawasan Sains dan Teknologi Soekarno.
Melalui workshop ini, BRIN dan AID Research Centre menargetkan terbentuknya jaringan kolaborasi internasional yang lebih solid, lahirnya proposal riset bersama, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia di bidang penyakit infeksi.
Inisiatif ini diharapkan menjadi fondasi penting untuk memperkuat ketahanan kesehatan di tingkat regional maupun global melalui kolaborasi riset berbasis sains.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Mahfud MD Bongkar Peta Pilpres 2029, 'Posisi Prabowo Bikin Lawan Harus Berhitung'
- 2Cawapres Prabowo 2029 Mulai Terbaca, Nama Dedi Mulyadi hingga AHY Masuk Hitungan
- 3Gugatan Pendidikan Gibran Masuk MK, Sikap 7 Partai Pengusung Kini Jadi Sorotan
- 4Terungkap! Alasan Jokowi Gabung PSI Mulai Dibaca Pengamat, Ada Tujuan Besarnya Sinyal Politik untuk Kaesang dan Gibran Menuju 2029
- 5Data Desil Bermasalah, Warga Garut Meninggal di RSUD Dr. Slamet Tanpa Penanganan
- 6Dedi Mulyadi Disebut Bisa Jadi Cawapres Prabowo 2029, Syarat Politik Ini Jadi Sorotan
- 7Pemilik Rumah Kontrakan Disebut Kena Pajak Baru 2027, Begini Fakta Sebenarnya dari Kemenkeu
- 8Wayne Rooney Minta Man City Dihukum Berat: “Turunkan Mereka ke Liga Terendah!”
- 9Wayne Rooney Minta Man City Dihukum Berat: “Turunkan Mereka ke Liga Terendah!”
- 10Bukan Cuma Soal Sponsor! Ini 4 Kesalahan Finansial Man City yang Kini Bisa Mengubah Nasib The Citizens








