Banten

BI Tetap Percaya Inflasi 2026–2027 Akan Kembali ke Jalur Sasaran Meski Awal Tahun Menghangat

Moehamad Dheny Permana | 3 Februari 2026, 04:29 WIB
BI Tetap Percaya Inflasi 2026–2027 Akan Kembali ke Jalur Sasaran Meski Awal Tahun Menghangat

Akurat Banten - Bank Indonesia menyatakan keyakinannya bahwa laju inflasi tahunan pada 2026 hingga 2027 akan kembali melandai dan bergerak stabil di dalam rentang target yang telah ditetapkan, meskipun tekanan harga sempat meningkat pada awal Januari 2026.

Optimisme tersebut disampaikan sebagai respons atas data terbaru Badan Pusat Statistik yang menunjukkan inflasi Indeks Harga Konsumen pada Januari 2026 mencapai 3,55 persen secara tahunan, atau sedikit lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.

Angka inflasi tersebut tercatat berada di atas sasaran inflasi nasional yang dipatok pada 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen, sehingga rentang target resmi berada di kisaran 1,5 hingga 3,5 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, dalam keterangannya di Jakarta pada Senin, menegaskan bahwa bank sentral tetap memandang kondisi inflasi ke depan secara positif dan terkendali.

Menurutnya, keyakinan tersebut bertumpu pada konsistensi kebijakan moneter yang terus dijalankan secara disiplin serta kuatnya koordinasi antara Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga.

Selain faktor kebijakan, Ramdan menjelaskan bahwa penguatan Program Ketahanan Pangan Nasional turut berperan penting dalam menopang pengendalian inflasi, khususnya dari sisi pasokan pangan.

Baca Juga: Bacaan Niat Puasa dan Keutamaan Nisfu Syaban, Malam Penuh keberkahan

Ia juga menyoroti berakhirnya dampak base effect yang sebelumnya muncul akibat inflasi Januari 2025 yang sangat rendah karena adanya kebijakan diskon tarif listrik.

Secara bulanan, perkembangan harga pada Januari 2026 justru menunjukkan deflasi sebesar 0,15 persen dibandingkan bulan sebelumnya, menandakan adanya tekanan penurunan harga dalam jangka pendek.

Kondisi deflasi bulanan ini dipengaruhi oleh inflasi inti yang masih terjaga stabil serta penurunan harga pada kelompok volatile food dan administered prices.

Inflasi inti pada Januari 2026 tercatat sebesar 0,37 persen secara bulanan, sedikit meningkat dibandingkan Desember 2025 yang berada di level 0,20 persen.

Kenaikan inflasi inti tersebut terutama dipicu oleh pergerakan harga emas dunia yang mengalami peningkatan, sementara ekspektasi inflasi domestik tetap berada dalam kondisi terkendali.

Bank Indonesia mencatat bahwa inflasi inti bulan Januari 2026 terutama disumbang oleh kenaikan harga emas perhiasan, biaya sewa rumah, serta harga sepeda motor.

Jika dilihat secara tahunan, inflasi inti mencapai 2,45 persen, naik tipis dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,38 persen.

Sementara itu, kelompok volatile food mencatatkan deflasi cukup dalam secara bulanan, yakni sebesar 1,96 persen, berbalik arah dari bulan sebelumnya yang mengalami inflasi 2,74 persen.

Penurunan harga pada kelompok pangan bergejolak ini terutama berasal dari komoditas cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah yang mengalami peningkatan pasokan seiring masuknya musim panen.

Secara tahunan, inflasi volatile food pada Januari 2026 tercatat sebesar 1,14 persen, jauh lebih rendah dibandingkan capaian Desember 2025 yang mencapai 6,21 persen.

“Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan terkendali didukung oleh eratnya sinergi antara Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) dan penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional,” ujar Ramdan.

Dari sisi administered prices, kelompok ini juga mencatat deflasi sebesar 0,32 persen secara bulanan, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang masih mengalami inflasi 0,37 persen.

Baca Juga: Waspada Virus Nipah, Kemenkes Imbau Warga Jangan Minum Air Aren Langsung dari Pohonnya!

Deflasi administered prices terutama disumbang oleh penurunan harga bensin, tarif angkutan udara, serta tarif angkutan antarkota.

Penyesuaian harga tersebut terjadi seiring turunnya harga BBM nonsubsidi dan normalisasi aktivitas masyarakat setelah periode Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan Tahun Baru.

Namun demikian, secara tahunan kelompok administered prices mencatat inflasi cukup tinggi, yakni sebesar 9,71 persen.

Capaian inflasi tahunan administered prices tersebut melonjak dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya sebesar 1,93 persen.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa lonjakan ini terutama dipengaruhi oleh faktor base effect, mengingat pada Januari hingga Februari 2025 pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50 persen.

Dengan berbagai faktor tersebut, Bank Indonesia menilai tekanan inflasi pada awal 2026 bersifat sementara dan tetap sejalan dengan proyeksi stabilitas harga dalam jangka menengah.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.