Iran Tegaskan Hak di Selat Hormuz Usai Negosiasi Buntu dengan AS di Islamabad

AKURAT BANTEN - Wakil Presiden Mohammad Reza Aref menegaskan bahwa Iran tidak akan mundur dalam memperjuangkan hak-haknya pasca pertemuan dengan Amerika Serikat yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Minggu 12 April 2026 sebagai respons atas hasil perundingan yang belum membuahkan kesepakatan konkret.
Dalam keterangannya, Aref menekankan pentingnya kekuatan nasional yang menurutnya kini semakin solid di tengah masyarakat Iran.
Baca Juga: Gencatan Senjata Paskah Kembali Retak, Ukraina dan Rusia Saling Klaim Ribuan Pelanggaran
Ia menyebut bahwa persatuan tersebut menjadi fondasi utama dalam menjaga kepentingan negara di tengah dinamika geopolitik yang terus berkembang.
“Dari kekuatan di Selat Hormuz hingga menuntut kompensasi, kami tetap teguh pada hak-hak rakyat. Ini adalah komitmen kami untuk Iran yang kuat,” ujarnya.
Aref juga menegaskan bahwa pemerintah akan tetap berjalan di jalur diplomasi tanpa mengabaikan kepentingan nasional yang dianggap krusial.
Di sisi lain, delegasi Iran dan Amerika Serikat diketahui telah menuntaskan putaran terbaru pembicaraan tanpa menghasilkan titik temu.
Pertemuan tersebut berlangsung melalui beberapa sesi diskusi intensif yang melibatkan pertukaran gagasan serta proposal dari masing-masing pihak.
Namun, hingga akhir perundingan, belum ada kesepakatan yang dapat dijadikan dasar untuk langkah lanjutan secara konkret.
Baca Juga: Jokowi Desak Kasus Ijazah Segera Disidangkan, Siap Bongkar Bukti Asli di Pengadilan
Sejumlah perbedaan mendasar masih menjadi penghambat utama dalam proses negosiasi antara kedua negara.
Meski demikian, kedua pihak memberikan sinyal bahwa komunikasi diplomatik tidak akan berhenti dan masih berpotensi berlanjut.
Situasi ini menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan masih membutuhkan waktu serta pendekatan yang lebih kompleks.
Baca Juga: Jokowi Desak Kasus Ijazah Segera Disidangkan, Siap Bongkar Bukti Asli di Pengadilan
Perundingan di Islamabad sendiri merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk meredakan ketegangan antara Iran dan blok yang dipimpin Amerika Serikat.
Ketegangan tersebut berkaitan dengan eskalasi konflik yang melibatkan serangan dari Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari lalu.
Upaya meredakan konflik sempat menghasilkan gencatan senjata sementara yang berlangsung selama dua pekan.
Baca Juga: Terkuak! Jejak Kelam Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus di Jakarta dalam Napak Tilas 53
Namun, kesepakatan tersebut dinilai masih rapuh dan belum mampu menjamin stabilitas jangka panjang di kawasan.
Dengan kondisi tersebut, diplomasi tetap menjadi jalur utama yang diharapkan mampu membuka peluang penyelesaian konflik secara lebih berkelanjutan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Mahfud MD Bikin Geger! 'Dicari Sampai Mati Pun Tak Akan Ada Ijazah', Ini Penjelasannya soal Gibran
- 2Anies, Ganjar, dan Mahfud Bakal Masuk Istana? Wacana Pemakzulan Gibran Ikut Jadi Sorotan
- 3Anies Baswedan Disarankan Masuk Kabinet Prabowo, Syahganda Sampai Sebut Posisi Menteri Ini!
- 4Denny Indrayana Soroti Sikap Megawati soal Gibran, PDIP Bakal Bergerak atau Pilih Diam?
- 5Duet Dedi Mulyadi-Purbaya Jadi Sorotan! Syahganda Singgung Pilihan Mengejutkan Purbaya
- 6Mahfud MD Jelaskan Beda Pemakzulan dan Pidana dalam Kasus Gibran, Ini Tahapan Hukumnya!
- 7Nasabah BTN Klaim Dana Rp17 Miliar Bermasalah, Setiap Rp1 Miliar Masuk Saldo Disebut Tersisa Rp100, Ada Apa?
- 8Miris! 21 Tahun Jadi Pemulung, Lansia Ini Tak Tahu Punya Uang Pensiun Rp1,1 Miliar
- 9Anies, Ganjar, dan Mahfud Bakal Masuk Istana? Wacana Pemakzulan Gibran Ikut Jadi Sorotan
- 10Mahfud MD Jelaskan Beda Pemakzulan dan Pidana dalam Kasus Gibran, Ini Tahapan Hukumnya!








