Banten

Kiamat Logistik? Iran Wajibkan Kapal Bayar Tol di Selat Hormuz, Urat Nadi Minyak Dunia Kini Tak Lagi Gratis!

Abdurahman | 12 April 2026, 20:56 WIB
Kiamat Logistik? Iran Wajibkan Kapal Bayar Tol di Selat Hormuz, Urat Nadi Minyak Dunia Kini Tak Lagi Gratis!
Wakil Presiden Iran Mohammad Reza Aref dengan latar belakang kapal tanker raksasa dengan dikawal kapal perang Iran (Istimewa)

Ringkasan Berita: Apa yang Perlu Anda Tahu?

Kebijakan Baru: Iran melalui Parlemen mengusulkan pungutan wajib (tol laut) bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Alasan: Menegaskan kedaulatan nasional dan pengelolaan wilayah Teluk Persia secara mandiri. Dampak Global: Potensi lonjakan biaya logistik kapal tanker dan kenaikan harga minyak mentah dunia. Pesan Politik: Langkah ini diambil di tengah kebuntuan negosiasi dengan Amerika Serikat.

AKURAT BANTEN– Dunia internasional mendadak tegang. Iran baru saja melontarkan wacana yang bisa mengubah peta perdagangan global selamanya.

Selat Hormuz, jalur perairan paling vital di planet ini, tidak akan lagi menjadi jalur "gratis" bagi kapal-kapal asing. Teheran berencana menarik pungutan tol bagi setiap kapal yang melintas.

Baca Juga: Pakistan Desak AS dan Iran Tahan Diri Usai Perundingan Damai di Islamabad Berakhir Buntu


"Pajak" di Gerbang Energi Dunia

Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengeluarkan pernyataan yang mengguncang pasar maritim.

Menurutnya, sudah saatnya Iran mengambil kendali penuh atas wilayahnya sesuai dengan kepentingan nasional.

"Pemerintah harus menetapkan sistem pengelolaan dan pengendalian untuk Selat Hormuz dan Teluk Persia.

Setiap kapal yang ingin masuk berdasarkan kepentingan nasional Iran harus membayar pungutan," tegas Azizi.

Selat Hormuz bukanlah sembarang perairan. Jalur sempit ini adalah tempat lewatnya 20% pasokan minyak dunia.

Jika Iran benar-benar menerapkan "sistem tol" ini, maka setiap liter minyak yang dikirim dari Timur Tengah ke Asia, Eropa, hingga Amerika akan dikenakan biaya tambahan.

"Langkah ini bukan sekadar urusan administrasi pelabuhan, melainkan proklamasi kedaulatan yang bisa membuat rantai pasok global bertekuk lutut. Iran sedang mengirim pesan bahwa 'kunci' pintu energi dunia ada di tangan mereka."

Baca Juga: Negosiasi 21 Jam Iran dan AS di Islamabad Berakhir Tanpa Kesepakatan

Menyandera Ekonomi Global demi Posisi Tawar?

Wacana ini muncul saat tensi antara Iran dan Barat memuncak. Menariknya, rencana pungutan tol ini diungkapkan bertepatan dengan perundingan delegasi Amerika Serikat dan Iran di Islamabad, Pakistan.

Iran tampaknya sadar betul bahwa mereka memegang kartu as. Azizi bahkan menyindir bahwa Amerika Serikat sebenarnya jauh lebih membutuhkan perdamaian daripada Iran.

Dengan mengancam akan menarik "pajak" di Hormuz, Iran secara efektif memberikan tekanan maksimal terhadap ekonomi AS yang sensitif terhadap inflasi energi.

Baca Juga: Kapal Perang Amerika Serikat Dekati Selat Hormuz, Iran Ancam Hancurkan dalam 30 Menit

Kiamat Logistik di Depan Mata?

Jika kebijakan ini resmi diketuk palu, para pakar memprediksi akan terjadi efek domino:

  1. Harga Minyak Melambung: Setiap sen biaya tol akan dibebankan pada harga jual minyak mentah.

  2. Antrean Kapal: Sistem pengendalian baru bisa memicu keterlambatan pengiriman skala besar.

  3. Konfrontasi Militer: Negara-negara pengangkut minyak kemungkinan besar akan menentang pungutan ini, yang berisiko memicu kehadiran militer lebih besar di kawasan tersebut.

Kini, mata dunia tertuju pada Teheran. Apakah ini hanya gertakan politik untuk melunakkan sanksi AS, atau awal dari tatanan ekonomi maritim baru yang lebih mahal?

Satu yang pasti, era pelayaran bebas di Selat Hormuz mungkin telah berakhir.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman