Banten

Gejolak Politik Jepang Guncang Rupiah, Ketidakpastian Koalisi Ishiba Jadi Sorotan

Moehamad Dheny Permana | 21 Juli 2025, 11:41 WIB
Gejolak Politik Jepang Guncang Rupiah, Ketidakpastian Koalisi Ishiba Jadi Sorotan

Akurat Banten - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan di awal pekan ini, seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap dinamika politik di Jepang.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai bahwa tekanan terhadap rupiah kali ini tidak hanya datang dari faktor global, tetapi juga dari kondisi politik regional yang tengah bergejolak, terutama di Negeri Sakura.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp16.320–Rp16.360 dipengaruhi oleh faktor regional, isu stabilitas politik Jepang, dan global index dollar yang berbalik menguat," kata Rully.

Kondisi politik Jepang memang tengah menjadi sorotan dunia setelah hasil pemilu Majelis Tinggi yang digelar pada Minggu, 20 Juli 2025 menunjukkan hasil mengecewakan bagi koalisi pemerintahan Perdana Menteri Shigeru Ishiba.

Koalisi Partai Demokrat Liberal (LDP) dan mitranya, Komeito, gagal meraih mayoritas, membuat posisi Ishiba semakin terjepit.

Baca Juga: Pasar Modal Makin Bergairah, Ratusan Perusahaan Siap Ramaikan Bursa

Mengutip laporan Kyodo, kehilangan dominasi di Majelis Tinggi berarti koalisi pemerintah kini tak lagi menguasai kedua majelis, baik Majelis Tinggi maupun Majelis Rendah.

Ini merupakan kejadian langka dalam sejarah Jepang pascaperang dan berpotensi menciptakan kebuntuan dalam pengambilan keputusan penting, seperti pengesahan anggaran dan kebijakan ekonomi.

Dampak dari kegagalan politik ini tak hanya dirasakan oleh Jepang, tetapi juga menjalar ke pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia.

Investor global cenderung menghindari risiko di tengah ketidakpastian, mendorong penguatan indeks dolar AS yang pada gilirannya menekan nilai tukar rupiah.

Sementara itu, munculnya partai Sanseito sebagai kekuatan baru di Jepang menambah kompleksitas peta politik.

Dengan slogan "Jepang Didahulukan" dan narasi nasionalis yang kontroversial, Sanseito berhasil meraih lebih dari 10 kursi, cukup untuk mulai mengusulkan rancangan undang-undang sendiri.

Di sisi lain, data domestik Indonesia menunjukkan sinyal positif yang sempat memberikan bantalan bagi pelemahan rupiah.

Baca Juga: Aksi Damai di Tengah Kota: Ketegasan Polisi dan Suara Ojol untuk Keadilan Tarif

Pasar saham dan obligasi pemerintah mencatat penguatan, menunjukkan bahwa investor lokal masih memiliki kepercayaan terhadap stabilitas ekonomi nasional.

“Sementara dari domestik, pasar saham dan obligasi negara masih melanjutkan penguatan,” ujar Rully.

Namun, hal ini belum cukup untuk menahan tekanan eksternal.

Rupiah dibuka melemah sebesar 28 poin atau 0,17 persen menjadi Rp16.325 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.297 per dolar AS.

Pemilu di Jepang kali ini memang menjadi indikator penting atas kepercayaan publik terhadap kepemimpinan Ishiba yang baru seumur jagung.

Isu-isu seperti inflasi yang belum terkendali, stagnasi upah, dan lambatnya progres negosiasi tarif dengan AS semakin memperburuk citra pemerintahannya.

Dengan partisipasi pemilih yang mencapai 58,52 persen, lebih tinggi dari pemilu sebelumnya, jelas bahwa masyarakat Jepang menginginkan perubahan.

Baca Juga: KM Barcelona V Terbakar di Perairan Talise, Tim Gabungan dan Warga Nelayan Bantu Penyelamatan Korban yang Terjun ke Laut

Namun, hasilnya justru membuat peta politik semakin tidak menentu.

Ketidakstabilan ini akan terus menjadi faktor yang diawasi ketat oleh pelaku pasar, terutama di kawasan Asia.

Untuk sementara, rupiah tampaknya harus bertahan menghadapi tekanan eksternal yang berasal dari luar negeri, termasuk drama politik yang sedang berlangsung di Jepang.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.