Banten

Heboh! Video YouTuber Australia Bongkar Skandal Tahu Beracun di Surabaya: Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Pabrik Tahu

Saeful Anwar | 15 Mei 2025, 19:50 WIB
Heboh! Video YouTuber Australia Bongkar Skandal Tahu Beracun di Surabaya: Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Pabrik Tahu

 

AKURAT BANTEN – Sebuah video dokumenter yang diunggah YouTuber asal Australia, Andrew Fraser, tengah menggemparkan publik, tidak hanya di Indonesia tapi juga kancah internasional.

Video berjudul "Indonesia TOXIC TOFU Timebomb: Poisoning Millions Daily" yang diunggah pada 25 April 2025 ini menunjukkan fakta mencengangkan: pabrik tahu di Surabaya diduga kuat menggunakan sampah plastik sebagai bahan bakar dalam proses produksinya.

Hingga hari ini, video tersebut telah ditonton lebih dari 2,6 juta kali, memicu kekhawatiran global akan keamanan pangan di Indonesia.

Baca Juga: Polemik Isu Ijazah Palsu Jokowi, Roy Suryo Diperiksa dan Dicecar 24 Pertanyaan

Video Andrew Fraser ini secara gamblang menelusuri alur produksi tahu di sebuah pabrik di Surabaya.

Yang menjadi sorotan utama adalah penggunaan tumpukan sampah plastik yang dibakar untuk memanaskan tungku produksi.

Praktik ini sontak menimbulkan pertanyaan besar: seberapa amankah tahu yang dihasilkan dengan metode seperti ini?

Baca Juga: KPK Dalami Jejak Kredit Bermasalah LPEI, Aliran Dana ke Perusahaan Lain Mulai Terendus

Dan bagaimana dampak asap yang dihasilkan terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar?

Sorotan DPR RI

Sorotan Tajam dari DPR RI: "Impor Sampah Plastik dari Luar Negeri?"

Video viral ini tak luput dari perhatian anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI. Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PAN, Surya Utama atau Uya Kuya, menyayangkan praktik ini.

Baca Juga: Jokowi Kalkulasi Daftar Jadi Ketum PSI: Jangan Sampai Misalnya Ikut, Tapi Saya Kalah!

Dalam rapat dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Kamis (15/5/2025), Uya Kuya mengungkapkan keprihatinannya.

"Ironinya saya melihat di EBC News, di Indonesia sampah plastik diimpor dari luar negeri ke Indonesia untuk bahan bakar pembuatan tahu tersebut," tegas Uya Kuya, menyoroti dimensi internasional dari permasalahan ini.

Pernyataan ini tentu saja memicu pertanyaan lanjutan tentang regulasi dan pengawasan impor sampah di Indonesia.

Baca Juga: PLN Beri Diskon 50 Persen Buat Tambah Daya Listrik, Berikut Syarat dan Ketentuannya!

Senada dengan Uya Kuya, Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDIP, Charles Honoris, mendesak BPOM untuk segera bertindak.

Charles meminta BPOM tidak hanya berfokus pada Surabaya, melainkan juga melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap pabrik-pabrik tahu di wilayah lain, termasuk Jakarta.

"Saya minta BPOM untuk bisa memeriksa tempat-tempat seperti ini, tempat produksi tahu ini tidak hanya di Surabaya.

Baca Juga: KADIN Bereaksi Cepat: SOP Baru Disiapkan Pasca Insiden Cilegon, Iklim Investasi Dijamin Kondusif!

Di Jakarta ada namanya Kopti, itu sepertinya mirip-mirip produksi tahu seperti itu. Jadi saya berharap bisa mendatangi tempat-tempat tersebut, kalau ada pelanggara bisa dilakukan penindakan," ujar Charles, menunjukkan bahwa masalah ini kemungkinan besar bukan kasus tunggal.

BPOM Angkat Bicara

BPOM Angkat Bicara: Kasus Lama yang Kembali Mencuat?

Menanggapi kegaduhan ini, Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa temuan pabrik tahu yang menggunakan bahan bakar sampah sebenarnya sudah ada sejak tahun 2019.

Baca Juga: Kali Angke Tersumbat Sampah, Pilar Saga Turun Langsung ke Lokasi

Ia meyakini bahwa kasus serupa di tahun 2019 telah ditangani oleh pemerintah daerah Kota Surabaya.

"Jadi kalau ditanya tentang bagaimana kami mengamankan pangan menyangkut isu tofu atau tahu, kami sudah turun.

Khusus beredar isu ini yang beredar sejak 2019 kami sudah koordinasi dengan balai besar Surabaya untuk turun kembali yang sudah ditindaklanjuti 2019, sekarang muncul lagi," pungkas Taruna.

Baca Juga: Layani Transportasi Jemaah Haji Indonesia, Bus Shalawat Beroperasi 24 Jam dan Punya 27 Rute

BPOM memastikan akan segera mengirimkan tim kembali ke Surabaya untuk melakukan pengecekan ulang terkait video viral ini.

Kejelasan mengenai status penanganan kasus sebelumnya dan efektivitas pengawasan menjadi pertanyaan besar yang perlu dijawab BPOM.

Ancaman

Ancaman Tahu Beracun: Dampak pada Kesehatan dan Lingkungan

Baca Juga: Penangguhan Penahanan dalam Kasus Meme Prabowo-Jokowi, ITB: Ada Pembinaan Akademik dan Karakter

Penggunaan sampah plastik sebagai bahan bakar dalam produksi tahu membawa potensi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Pembakaran plastik dapat melepaskan berbagai zat berbahaya, seperti dioksin dan furan, yang bersifat karsinogenik (penyebab kanker) dan dapat mengganggu sistem endokrin tubuh.

Jika zat-zat ini mencemari tahu yang dikonsumsi, tentu saja akan berdampak buruk pada kesehatan jutaan orang setiap harinya.

Baca Juga: Kemenkes Kembangkan AI untuk Diagnosis dan Terapi Kanker, Diklaim Bisa Bantu Mengurangi Biaya Pengobatan Pasien

Selain itu, asap hasil pembakaran sampah plastik juga berkontribusi pada polusi udara, merugikan masyarakat sekitar pabrik dan lingkungan secara lebih luas.

Ini bukan hanya masalah pangan, melainkan juga masalah lingkungan dan kesehatan publik yang mendesak.

Baca Juga: Rombongan Pertama Haji Khusus dari Indonesia Mulai Tiba di Saudi, Apa Itu Haji Khusus?a 

Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi kita semua untuk lebih peduli pada asal-usul dan proses produksi makanan yang kita konsumsi.

Akankah kasus "tahu beracun" ini menjadi titik balik bagi pengawasan pangan di Indonesia? Kita nantikan tindak lanjut dari pemerintah dan instansi terkait (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman