Kisah Perjalanan Gedung Siput Hingga Menjadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin Palembang

AKURAT BANTEN - Tempat wisata bersejarah ini berlokasi di dekat kawasan wisata Benteng Kuto Besak. Museum yang terdiri dari 2 lantai ini merupakan bangunan tua yang hingga kini masih terawat dengan baik.
Tempat wisata ini sendiri dibuka muali pukul 08.00 pagi sampai 16.00 sore.Museum ini awalnya merupakan keraton milik kesultanan Palembang bernama Keraton Kuto Kecik atau Keraton Kuto Lamo.
Saat itu bangunannya sebagian besar berbahan kayu dan kemudian berubah menjadi kediaman Residen Belanda J.L van Sevenhoven abad ke-19 antara tahun 1821 sampai 1824.
Untuk menjaga kelestariannya Pemprov Sumatra Selatan dipergunakan sebagai Museum dengan nama Sultan Mahmud Badruddin II.
Selain itu bangunan ini juga menjadi gedung dinas kebudayaan kota Palembang.
Sesuai dengan namanya, Museum ini lebih banyak menampilkan benda-benda peninggalan sejarah kota Palembang mulai dari masa Sriwijaya sampai dengan era Kesultanan.
Di dalam museum ini terdapat berbagai jenis koleksi dari arkeologi, etnografi, biologi, seni dan terutama koleksi mata uang hingga berbagai macam prasasti.
- Baca Juga: Destinasi Wisata Museum Situs Kepurbakalaan Banten Lama, Sejarah Kejayaan dan Peninggalan Kesultanan Banten
- Baca Juga: Sejarah MEDUSA Wanita Berambur Ular Dan Tanggal Lahir Pemilik Khodam Ini, Apakah Kamu Termasuk?
- Baca Juga: Sejarah Taman Entoy Museum Multatuli, Berawal dari Indeks Kepuasan Masyarakat
Sejarah Museum
Dikutip dari DetikSumsel, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II adalah sebuah bangunan dengan arsitek tropis khas hindia yang berlokasi di Jl. Sultan Mahmud Badaruddin, 19 ilir, Bukit Kecil Palembang tepatnya di Kawasan Benteng Kuto Besak (BKB).
Museum Sultan Mahmud Badaruddin II merupakan bangunan yang amat sangat bersejarah di kota Palembang.
Bangunan ini awal mulanya berada di kuta lama sebagai istana sultan mahmud badaruddin I di tahun 1724 – 1758.
Sayangnya bangunan itu dihancurkan oleh kolonial Belanda sebagai hukuman kesultanan Palembang.
Di balik hukuman tersebut ternyata sebelumnya. kesultanan Palembang telah menghancurkan penginapan Belanda tepatnya di sungai alur.
Penyerangan dan pembantaian ini terjadi karena adanya gerakan politik yang sudah dipersiapkan oleh belanda untuk menyerang dan menghapus kesultanan.
Tidak hanya menghancurkan istana sultan sebagai balas dendam, kolonial Belanda juga menyerang terhadap pemerintahan lokal.
Setelah bangunan hancur di tahun 1823 kuta lama dibangun gedung baru yang menjadi museum sultan mahmud Badaruddin II.
Awal mula nama bangunan tersebut adalah Gedung siput.
Pada tahun 1825 sebuah bangunan di bangun lagi dengan gaya eropa dengan arsitek tropis hindia sebagai kantor pemerintahan kolonial.
Di tahun 1920, bangunan tersebut direnovasi lagi untuk digunakan sebagai pusat pemerintahan.
Pada perang dunia II, bangunan ini digunakan sebagai markas militer dan berlanjut hingga Indonesia merdeka.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








