Banten

KESEDIHAN Sri Mulyani Adalah Gambaran Dari Sejumlah Tekanan Yang Berkecamuk Dalam Nuraninya Yang Masih Merah Putih

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti | 14 November 2023, 13:33 WIB
KESEDIHAN Sri Mulyani Adalah Gambaran Dari Sejumlah Tekanan Yang Berkecamuk Dalam Nuraninya Yang Masih Merah Putih

AKURAT BANTEN - Menteri Keuangan Sri Mulyani sempat menahan tangis menanggapi apa yang terjadi saat ini terhadap institusi yang dipimpinnya. Sambil terbata-bata ia menyampaikan apa yang dirasakan masyarakat terhadap institusi yang dipimpinnya.

Sangat jelas terlihat ekspresi sedih Sri Mulyani yang hadir sebagai nara sumber, ketika tampil pada program Rosi yang ditayangkan di Kompas TV pada Kamis (02/03/2023) malam, dengan tema Kepercayaan Publik Tidak Boleh Dikhianati.

"Sebetulnya kalo kita lihat suasana saat ini ya Ros (Rosi), saya benar-benar bisa memahami disatu sisi masyarakat sangat kecewa dan pasti marah, karena itu adalah suatu ekspresi dan sekaligus harapan terhadap sebuah institusi yang selama ini sudah kita coba untuk terus perbaiki," ungkap Sri mulyani.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani tidak bisa dipungkiri ia merasa kecewa karena ulah anak pejabat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Rafael Alun Trisambodo, sehingga membuat kepercayaan masyarakat menurun.

Semua ini berawal dari kasus penganiayaan yang dilakukan oleh Mario Dandy Satriyo yang merupakan anak dari Rafael Alun terhadap David yang merupakan anak dari salah seorang petinggi GP Anshor, Hingga akhirnya terungkap gaya hidup mewah, flexing hingga harta kekayaan rafael yang dianggap tidak wajar sebagai pejabat Ditjen Pajak.

  • Duka Sri Mulyani
  • Duka Lembaga Keuangan Negara
  • Duka Rakyat Indonesia

Kasus di atas adalah satu dari sekian prilaku buruk pejabat negara yang sempat ditangkap oleh mata kamera jurnalis, lalu bagaimana dengan yang tidak terlihat seperti pembagian roti dalam satu lingkaran setan yang berkoloni untuk kejahatan keuangan negara. Lalu tau apa rakyat Indonesia yang punya kuasa hanya untuk memerintah pacul?

Sungguh tragis negeri ini! Dalam banyak hal, sering hadir dalam candaan diberbagai Podcast atau di waktu senggangnya para akademisi, bahwa sesungguhnya negeri ini tak bertuan, maka yang mengisi kekuasaan adalah para perompak laut dari negeri seberang.

Ini nampak jelas dari cara kepemimpinan mereka yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup sebagai seorang negarawan, Seperti:

Gagal berpikir global bahwa Indonesia sebagai komunitas global

Gagal berpikir untuk mensejahterakan rakyat sesuai tuntutan Undang-undang 45

Gagal memahami demokrasi sebagai dasar tuntutan kemanusiaan, sehingga cenderung otoriter dan otoritas

Gagal mengolah atau menggunakan keuangan negara sehingga cara bar-bar menjadi jalan terakhirnya, kemudian berefek terhadap utang negara yang melonjak tinggi

Gagal memandang Undang-undang sebagai dasar kebijakan atau sebagai nahkoda, yang pada akhirnya cenderung menerbitkan undang-undang baru sebagai tandingan untuk kepentingan kelompok tertentu.

 

Maka dengan sekuat apapun Sri Mulyani tetaplah dia sebagai pembantu presiden, walaupun di rasa cukup untuk menjelaskan semuanya. Namun kekuatan besar dari kelompok Oligarki yang berada disekitar pengambil kebijakan menjadikan ilmu pengetahuannya tidak berfungsi dengan baik.

Nah, bagaimana dengan keadaan akhir masa jabatannya? tentu kesedihan itu adalah akumulasi yang menggambarkan tentang bagaimana amanah yang di embannya tidak maksimal dan tidak memenuhi target kebahagiaan. Karena kacau-balaunya pengelolaan uang negara dan lemahnya pemimpin sebagai pengambil kebijakan, Sebagaimana telah digambarkan dalam satu filosofi, Bahwa ikan akan selalu busuk dari kepalanya bukan dari ekor.

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.