Whoosh Jakarta-Surabaya 3 Jam Terganjal Utang Triliunan? AHY Buka Suara: Jangan Sampai Infrastruktur Jadi Beban!

AKURAT BANTEN – Rencana ambisius perpanjangan rute Kereta Cepat Indonesia-China (Whoosh) dari Jakarta-Bandung hingga ke Surabaya menjadi sorotan.
Proyek yang menjanjikan waktu tempuh fantastis, Jakarta-Surabaya hanya 3 jam, kini dihadapkan pada bayang-bayang polemik utang proyek sebelumnya.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa perpanjangan rute ini tak boleh terhambat, namun juga harus disertai skema pembiayaan yang berkelanjutan dan memitigasi risiko utang.
Baca Juga: HP Anda Diintai? Waspada! Ini 7 Tanda Tak Terbantahkan Ponsel Anda Disadap yang Wajib Anda Tahu!
Dilema Utang vs Konektivitas: Mimpi Jakarta-Surabaya 3 Jam
AHY mengakui bahwa realisasi rute Whoosh ke Surabaya dan permasalahan utang yang membelit proyek Whoosh Jakarta-Bandung adalah dua sisi mata uang yang harus didekati secara cermat.
“Di satu sisi, kita ingin konektivitas secara signifikan. Bisa dibayangkan, kalau Jakarta-Surabaya bisa ditempuh 3 jam saja, maka signifikan dari sisi travel time,” ujar AHY di kantor Kemenko IPK, Selasa (21/10/2025).
Jarak tempuh yang terpangkas drastis (dari sekitar 10-12 jam perjalanan darat/kereta konvensional) ini diprediksi akan merevolusi mobilitas, efisiensi bisnis, dan pariwisata antar dua kota metropolitan terbesar di Jawa. Namun, mimpi ini membawa tantangan besar, yaitu beban biaya dan skema utang yang harus diselesaikan dari proyek pendahulu.
AHY mengingatkan, "Utang ini tidak boleh menghambat rencana besar kita untuk mengembangkan konektivitas berikutnya, tadi Jakarta sampai dengan Surabaya."
Kunci Solusi AHY: TOD dan Nilai Tambah Kawasan
Menko AHY menegaskan bahwa proyek infrastruktur raksasa tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan jalur semata, melainkan harus memberikan manfaat atau keuntungan yang dirasakan secara luas dan mampu menciptakan stabilitas pembiayaan.
Solusinya terletak pada pengembangan kawasan di sekitar stasiun, atau yang dikenal sebagai konsep Transit-Oriented Development (TOD).
“Kawasan-kawasan transit itu harus menjadi nilai tambah yang juga bisa mendukung stabilitas pembiayaan dengan pengembangan konsep TOD... dengan pengembangan kawasan kita bisa menangkap potensi nilai tambah dari tanah atau lahan,” papar AHY.
Baca Juga: Isu Perang Dingin Purbaya vs Luhut di Sidang Kabinet, Purbaya Angkat Bicara!
Mengapa TOD Penting?
Konsep TOD memastikan bahwa stasiun Kereta Cepat menjadi pusat kegiatan ekonomi dan sosial. Ini adalah strategi cerdas untuk:
Mendukung Pembiayaan: Nilai tambah dari properti dan lahan di sekitar stasiun (melalui skema konsesi, sewa, atau kerjasama) diharapkan dapat menghasilkan pendapatan yang signifikan untuk membantu menstabilkan keuangan proyek, termasuk dalam konteks penyelesaian utang.
Menciptakan Sentra Ekonomi Baru: TOD mengubah stasiun menjadi simpul interaksi. Hal ini akan memicu pertumbuhan ekonomi lokal, lapangan kerja, dan pemerataan pembangunan di luar wilayah Jakarta dan Bandung.
Saat ini, pemerintah sedang mengkaji intensif berbagai opsi penyelesaian utang Whoosh, dengan harapan skema yang tepat dapat ditemukan tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara langsung.
Keterlibatan holding BUMN, Danantara, sebagai penanggung jawab proyek, menjadi salah satu opsi utama dalam mengurai benang kusut utang sambil memastikan kelanjutan proyek strategis nasional ini.
Kelanjutan Whoosh ke Surabaya bukan hanya soal kecepatan, tapi juga strategi jangka panjang agar infrastruktur vital ini benar-benar menjadi aset ekonomi, bukan hanya beban utang negara (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Sidang Gugatan Gibran di MK Buka Fakta Baru, Bawaslu Ternyata Tak Bisa Akses Data KPU
- 2Jika Gugatan Gibran Dikabulkan MK, Yusril Bicara Dampaknya, ‘Saya Tidak Bisa Membayangkan’
- 3Prabowo Disebut Tak Lagi dengan Gibran di 2029, 3 Nama Ini Mulai Muncul sebagai Pengganti
- 4Jokowi Akhirnya Buka Suara soal Pendidikan Gibran, Singgung Paket C, 'Masa Disuruh Lagi?'
- 5Gatot Nurmantyo Yakin Gugatan Gibran Bakal Ditolak MK, Lalu Singgung Skenario Politik Berikutnya
- 6Gugatan Gibran di MK Disebut KPU Bisa Masuk Ranah Pemakzulan, Ini Alasannya
- 7Dedi Mulyadi Masuk Bursa Pilpres 2029, Tapi Ada Satu Hambatan Besar yang Disorot Pengamat
- 8Makin Terbuka! Hakim MK Pertanyakan Verifikasi Dokumen Pendidikan Gibran oleh KPU
- 9Polemik Ijazah Jokowi Kembali Memanas, Dokumen Disebut Dibakar dan 3 Saksi Siap Buka Suara
- 10Gatot Nurmantyo Ungkap Skenario Setelah Gugatan Gibran Ditolak, Prabowo Diminta Waspada







