Banten

Skandal Beras Oplosan: Saat Warga Beli Premium, Tapi Dapat Medium

Moehamad Dheny Permana | 21 Juli 2025, 11:22 WIB
Skandal Beras Oplosan: Saat Warga Beli Premium, Tapi Dapat Medium

Akurat Banten - Skandal beras oplosan kembali menjadi sorotan publik.

Di tengah harapan masyarakat untuk mendapatkan bahan pangan berkualitas, muncul fakta mengejutkan bahwa sebagian besar beras yang dijual dengan label premium ternyata tidak memenuhi standar.

Bahkan, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, pun turut angkat bicara.

"Dievaluasi saja. Kalau ada kesalahan, tindak saja," tegas Rano.

Pernyataan itu menegaskan sikap Pemprov DKI Jakarta dalam menanggapi isu serius tersebut.

Meski Rano tidak memberikan komentar lebih lanjut terkait detail kasus beras oplosan, ia sebelumnya telah menyampaikan bahwa Pemprov DKI akan bersikap transparan dan melakukan investigasi secara menyeluruh.

Audit dan pemeriksaan internal pun akan dilaksanakan oleh Inspektorat DKI Jakarta.

Namun bukan hanya Pemprov yang gerah. DPRD DKI Jakarta juga mulai mengambil langkah konkret.

Salah satu BUMD yang diduga terlibat, yakni FS, akan segera dipanggil untuk dimintai klarifikasi.

Baca Juga: Aksi Damai di Tengah Kota: Ketegasan Polisi dan Suara Ojol untuk Keadilan Tarif

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Basri Baco, menegaskan bahwa hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.

“Kalau terbukti FS menjual beras dengan kualitas di bawah standar premium, padahal dijual dengan harga tinggi, tentu harus ada sanksi. Ini bentuk perlindungan bagi masyarakat,” ujarnya.

Kekecewaan masyarakat terhadap praktik semacam ini sangat beralasan.

Bayangkan saja, warga yang berjuang membeli beras premium demi kualitas makanan keluarganya, justru disuguhkan kualitas beras yang setara dengan kategori medium.

Baca Juga: Dapat Amnesti, Selebgram AP yang Divonis 7 Tahun Penjara di Myanmar Dipulangkan ke Indonesia

Ini jelas mencederai kepercayaan publik terhadap produsen maupun pemerintah daerah.

Apalagi, Kementerian Pertanian sebelumnya telah mengungkap hasil uji laboratorium yang dilakukan di lima lokasi berbeda.

Hasilnya mengejutkan, sejumlah beras bermerek yang beredar di pasaran ternyata tak memenuhi standar mutu beras premium.

Yang lebih memprihatinkan, beras tersebut dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), sehingga masyarakat menjadi korban dua kali yaitu membayar lebih mahal untuk kualitas yang lebih rendah.

Ini jelas tindakan yang tidak bisa ditoleransi.

Langkah selanjutnya kini menjadi sorotan public yaitu apakah akan ada sanksi nyata? Apakah Pemprov DKI dan DPRD akan bertindak tegas terhadap pelaku usaha yang menyalahgunakan kepercayaan rakyat? Dan bagaimana nasib konsumen yang selama ini sudah telanjur membeli beras dengan harga premium?

Baca Juga: Kakak Tewas Ditusuk Adik Kandung, Polisi Masih Memburu Pelaku

Kasus ini adalah pengingat bahwa pengawasan terhadap bahan pokok harus diperketat.

Dalam kondisi ekonomi yang menantang seperti sekarang, masyarakat tidak boleh dirugikan hanya karena ulah segelintir pihak yang mementingkan keuntungan semata.

Kita semua berharap agar penyelidikan yang sedang berjalan bisa membuka tabir skandal ini secara utuh dan memberikan efek jera bagi para pelaku.

Karena dalam hal pangan, tidak ada ruang untuk main-main.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.