Banten

Apa Itu Perasuk? Tradisi Kerasukan Dalam Film Para Perasuk

Rahmawati Huda | 7 Maret 2026, 07:47 WIB
Apa Itu Perasuk? Tradisi Kerasukan Dalam Film Para Perasuk
Salah satu peran perasuk dalam film para perasuk 2026 (wregas_bhanuteja)

AKURAT BANTEN - Film Para Perasuk menghadirkan konsep yang cukup unik dibandingkan film bertema supranatural lainnya. Jika biasanya kerasukan digambarkan sebagai kejadian menyeramkan, film ini justru menampilkan fenomena tersebut sebagai bagian dari tradisi masyarakat di sebuah desa.

Dalam cerita film ini, warga desa memiliki kebiasaan merayakan kerasukan dalam sebuah pesta atau ritual yang dilakukan bersama-sama. Tradisi tersebut menjadi momen yang dinantikan warga karena dianggap membawa kebahagiaan dan pengalaman spiritual yang berbeda dari kehidupan sehari-hari.

Baca Juga: Sinopsis Film Para Perasuk : Kisah Desa yang Merayakan Kerasukan

Dalam ritual tersebut terdapat sosok penting yang disebut perasuk. Perasuk adalah orang yang dipercaya memiliki kemampuan untuk memanggil atau menyalurkan roh ke tubuh orang lain. Mereka biasanya memimpin jalannya ritual dengan iringan musik dan mantra tertentu.

Ketika ritual dimulai, warga desa yang mengikuti upacara akan menari mengikuti irama musik sambil membiarkan diri mereka kerasukan. Para peserta ini disebut sebagai pelamun, yaitu orang-orang yang tubuhnya dirasuki roh selama berlangsungnya ritual tersebut.

Perasuk kemudian menyalurkan berbagai roh yang dipercaya memiliki karakter berbeda. Setiap roh akan memberikan pengalaman kerasukan yang tidak sama bagi setiap pelamun.

Baca Juga: Ramadan sebagai Momentum Memulai Gaya Hidup Sehat. Yuk Simak!

Salah satu konsep menarik dalam film Para Perasuk adalah adanya berbagai roh binatang yang dipercaya dapat merasuki para pelamun. Dalam cerita film ini, terdapat sekitar dua puluh jenis roh yang dapat muncul dalam ritual tersebut.

Beberapa di antaranya digambarkan berasal dari roh hewan seperti kerbau, kodok, bulus, semut, hingga lintah. Setiap roh membawa sensasi dan reaksi yang berbeda pada tubuh orang yang dirasuki.

Ketika kerasukan terjadi, para pelamun dipercaya akan memasuki sebuah dunia lain yang disebut alam sambetan. Dunia ini digambarkan sebagai pengalaman spiritual yang penuh warna dan terasa sangat berbeda dari kehidupan nyata. Dalam kondisi tersebut, para pelamun seakan melupakan realitas dan larut dalam perasaan bahagia yang intens.

Baca Juga:  2 Ide Menu Takjil Simple untuk Berbuka Puasa yang Mudah Dibuat di Rumah, Lengkap dengan Cara Membuat yang Praktis dan Bahan Sederhana

Konsep inilah yang membuat film Para Perasuk terasa berbeda dari film bertema supranatural pada umumnya. Di desa tempat cerita berlangsung, kerasukan tidak dianggap sebagai hal yang menakutkan, melainkan sebagai bagian dari tradisi dan identitas komunitas.

Melalui cerita ini, film Para Perasuk mencoba memperlihatkan bagaimana kepercayaan dan budaya lokal dapat membentuk cara masyarakat memandang hal-hal yang bersifat mistis.

Baca Juga: Kecelakaan Beruntun di Tol Cipularang KM 93 Libatkan 10 Kendaraan, Tiga Orang Meninggal Dunia

Dengan menghadirkan tradisi kerasukan sebagai sebuah pesta budaya, Para Perasuk memberikan sudut pandang baru tentang fenomena supranatural. Film ini tidak hanya menampilkan unsur mistis, tetapi juga memperlihatkan hubungan erat antara ritual, komunitas, dan identitas masyarakat. ***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.