Banten

24 Maret Diperingati Sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia, Intip Sejarahnya!

Saiful Anwar | 24 Maret 2024, 21:14 WIB
24 Maret Diperingati Sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia, Intip Sejarahnya!

AKURAT BANTEN - Tanggal 24 Maret diperingati sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahanaya penyakit Tuberkulosis.

Indonesia menjadi negara penyumbang kasus TBC terbanyak kedua setelah India. Pada tahun 2020 ada sebanyak 393.323 orang Indonesia yang terkena kasus TBC.

Untuk mengetahui sejarah Hari Tuberkulosis, simak artikel selengkapnya.

Baca Juga: Resep Kue Semprit Manis Dan Renyah, Cocok Dihidangkan Saat Lebaran

Sejarah Hari Tuberkulosis se Dunia

Penyakit tuberkulosis sudah ada sejak berjuta-juta tahun sebelumnya. Namun, waktu itu penyakit ini belum diketahui pasti nama dan penyebabnya.

Sampai pada 24 Maret 1882, seorang ilmuwan bernama Robert Koch menemukan bahwa Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri patogen yang dapat menularkan penyakit tuberkulosis.

Penemuan ini menggugah pandangan bahwa TBC bukanlah penyakit yang diwariskan dari orang tua ke anak.

Baca Juga: Mengenal 'Earth Hour', Gerakan Kampanye Gaya Hidup Ramah Lingkungan

Temuan ilmuwan Jerman ini menjadi momentum penting dalam upaya pengendalian dan eliminasi penyakit ini. Seabad kemudian, tepatnya pada tahun 1982, ditetapkan tanggal 24 Maret sebagai Hari Tuberkulosis Sedunia.

Penetapan hari tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang bahaya yang ditimbulkan oleh penyakit TBC. Dengan tujuan tersebut, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang masalah ini, sehingga angka penularan dan kematian akibat TBC dapat ditekan.

Di Indonesia, penyakit ini mempunyai sejarah yang panjang. Hal ini dibuktikan dengan adanya catatan kasus TBC pada salah satu relief di Candi Borobudur pada abad ke-8.

Baca Juga: Kandungan Nutrisi Buah Melon, Wajib Ada Di Menu Buka Puasa!

Pada jaman Hindia Belanda pun, penyakit ini tetap menghantui masyarakat Indonesia. Dengan begitu, dibentuklah yayasan bernama Stichting Centrale Vereniging Voor Tuberculose Bestrijding (CVT) pada tahun 1933. Didirikan juga 15 sanotorium untuk perawatan pasien TBC dan 20 consultatie bureaux untuk memberikan penyuluhan dan juga pengobatan.

Pada saat Indonesia diduduki oleh Jepang, usaha penganggulangan TBC ini sempat hancur. Namun, akhirnya Indonesia kembali membangun dan mengusahakan upaya-upaya pemberantasan penyakit mematikan ini. 

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.