Banten

Kenapa Masyarakat Indonesia Percaya Mistis? Ternyata Ini Sebabnya!

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti | 11 Desember 2023, 11:10 WIB
Kenapa Masyarakat Indonesia Percaya Mistis? Ternyata Ini Sebabnya!

AKURAT BANTEN - Hal-hal berbau magis dan mistis, termasuk kegiatan yang berhubungan dengan prilaku pengkultusan, Hingga saat ini masih dipercaya termasuk masyarakat di era modern. Pola pikir masyarakat inilah yang dinilai sebagai salah satu sebab hal-hal magis yang kerap diadaptasi menjadi pilihan terbaik untuk menjawab keresahan dan jalan pintas untuk tujuan yang di inginkan.

Menurut Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada Heddy Shri Ahimsa mengatakan bahwa masyarakat masih menilai beragam hal magis seperti sihir, santet, pesugihan adalah cara cepat menyelesaikan masalah. Seperti pengin kaya, kemudian datang ke suatu tempat atau dukun dan kemudian jadi kaya, Itu adalah bukti kalau pola pikir dukun itu benar.

Hal tersebut kemudian disosialisasikan kepada komunitas dan di sertai bukti-bukti pendukungnya, Maka akan bertambah pula keyakinan seseorang pada hal mistik.

Heddy mengatakan pola pikir manusia terbagi menjadi empat untuk menghadapi masalah, yakni akal sehat (common sense), magi (upacara atau praktik mempersuasi makhluk gaib), sains (scientific), dan agama (religion). Setiap manusia pun memiliki pola pikir dominan yang berbeda-beda.

Menurutnya, hal-hal magis juga masih ada hingga kini karena keyakinan masyarakat bahwa langkah tersebut memberikan 'jawaban' lebih cepat daripada cara atau pola pikir lainnya.

"Itu cara cepat. Karena logikanya gini, kalau kita pakai agama, kita tidak punya power untuk menyuruh Tuhan. Kalau pake scientific harus kerja keras dan lama. Tapi kalau pakai itu (santet/ilmu-ilmu magis) cepat. Saya bisa punya kuasa untuk sesuatu yang lain dan itu bisa saya manfaatkan," ujar Heddy.

Hal serupa disampaikan Akademisi Antropologi Universitas Indonesia Imam Ardhianto. Menurutnya, masyarakat hingga kini masih percaya dengan magic seperti babi ngepet dan santet karena dianggap berfungsi.

Tak hanya itu, magic juga dinilai menjadi kritik terhadap lembaga modern yang gagal memenuhi janji baik dalam mobilitas sosial, kesehatan, atau pencapaian psikologis.

Akademisi FIB Universitas Jember, Heru SP Saputra, dalam tulisan yang bertajuk Tradisi Mantra Kelompok Etnik Using di Banyuwangi dan diterbitkan dalam jurnal Humaniora Volume XIII No 3/2001, menulis bahwasanya magic seperti mantra merupakan alternatif pranata sosial tradisional ketika pranata formal tidak lagi mampu mengakomodasi kepentingan masyarakat.

Kekuatan praktik mistis tersebut dilandasi beberapa aspek, mulai dari kepercayaan subjek (dukun) terhadap efektivitas teknik yang digunakan, kepercayaan objek (korban) terhadap kekuatan mistik, dan kepercayaan dan harapan komunitas yang berfungsi sebagai bidang gravitasi.

Hal tersebut yang membuat suatu kelompok secara naluriah mewariskan mekanisme menghadapi dan memecahkan masalah sosial budaya dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.