Banten

Benarkah Jakarta Memiliki Keraton? Fatahillah Disebut Raja Pertama Keraton Jayakarta

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti | 6 September 2023, 11:04 WIB
Benarkah Jakarta Memiliki Keraton? Fatahillah Disebut Raja Pertama Keraton Jayakarta

AKURAT BANTEN - Keraton Jayakarta didirikan oleh Fatahillah pada abad ke 15. Lokasi Keraton berada di Hotel Omni Batavia atau Hotel De Rivier yang kini dikenal dengan Hotel Mercure.

Keberadaan Keraton Jayakarta tidak terdokumentasikan dengan baik karena pada abad ke 16, Keraton ini dibumi hanguskan oleh Belanda sehingga seluruh arsip tentang keraton juga ikut terbakar.

Lalu siapakah sosok Fatahillah dan bagaimana dia mampu menguasai dan mengusir Portugis di Sunda kelapa ?

Fatahillah atau Faletehan, merupakan panglima pasukan Kerajaan Demak-Cirebon yang memimpin penaklukan Portugis di Sunda Kelapa pada 1527.

Setelah mengusir Portugis, ia menggganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta, yang berarti kota kemenangan.

Baca Juga: Makna Burung Garuda Berkepala Dua Kerajaan Bima Peninggalan Abdul Hamid Muhammad Syah

Nama Faletehan didapat dari orang Portugis bernama Joao de Barros dalam bukunya yang berjudul Decadas da Asia.

Ada yang mengganggap bahwa Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah orang yang sama.

Asal-usul

Mengenai asal-usul dari Fatahillah terdapat banyak pendapat dan riwayat yang dikemukakan oleh para sejarawan.

Salah satu pendapat mengemukakan bahwa Fatahillah berasal dari Pasai, Aceh Utara, yang memilih untuk hijrah ke Mekkah setelah tanahnya dikuasai Portugis.

Setelah beberapa tahun di Mekkah, Fatahillah kembali ke tanah air, tetapi bukan ke Aceh, melainkan ke Jawa, tepatnya di Kerajaan Demak.

Selain itu, ada pendapat yang meyakini bahwa Fatahillah adalah keturunan raja dari Arab dan masih keturunan Nabi Muhammad, yang kemudian menikahi putri Raja Pajajaran.

Pendapat lain menyebutkan bahwa Fatahillah lahir pada 1448 dari pasangan Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda dan Nyai Rara Santang.

Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda disebut sebagai pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim, sedangkan Nyai Rara Santang adalah putri Raja Pajajaran, Raden Manah Rasa. Soal hubungan keluarga, banyak yang meyakini Fatahillah merupakan menantu dari Sunan Gunung Jati.

Baca Juga: Pesta Sa Ra So Tradisi Perayaan Sunat Perempuan Suku Dou Mbojo Bima, Jika Tidak Bakal Sulit Nikah

Terlepas dari perdebatan asal-usulnya, Fatahillah diakui sebagai panglima perang yang berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Para Sejarawan berpendapat bahwa Fatahillah menginjakkan kakinya di Jawa pada 1525, tepatnya di Tanah Sunda.

Kedatangannya disambut baik oleh Raja Sunda, Prabu Surawisesa, yang dikenal oleh Portugis sebagai Raja Samio. Kerajaan Sunda pada saat itu telah melakukan kerja sama dengan Portugis guna melegitimasi kekuasaannya di Sunda Kelapa dari kekuatan politik Islam di wilayah Jawa atau Mataram.

Namun, Fatahillah menilai bahwa kehadiran Portugis di Sunda Kelapa merupakan ancaman bagi seluruh wilayah Nusantara, terutama Jawa.

Fatahillah kemudian pergi ke Demak dan mengabdikan dirinya kepada Sultan Trenggono, penguasa Kerajaan Demak saat itu. Sultan Trenggono, Raja Demak yang Menaklukkan Majapahit Sultan Trenggono kemudian menikahkan adik perempuannya dengan Fatahillah.

Pada saat penaklukan Portugis Fatahillah diperkirakan membawa 20 kapal yang mengangkut sekitar 1.500 pasukan di bawah pimpinannya. Ekspedisi itu mulai dilancarkan pada 1526 dan berakhir pada 22 Juni 1527,

Ketika pasukannya berhasil mengalahkan Portugis dan menguasai Sunda Kelapa, Fatahillah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Penaklukkan Fatahillah atas Portugis pada 22 Juni 1527 kemudian diperingati sebagai hari jadi Jakarta.

Baca Juga: Indonesia Merdeka 27 Desember 1949? Itu Kata Belanda! Ternyata ini Alasannya

Setelah mengusir portugis, Fatahillah segera mengatur dan mulai menjalankan pemerintahannya yang sah dengan tata kelola yang baik mendirikan beberapa fasilitas pendukung antara lain Keraton Jayakarta dan Kota moderen pertama sebagai pusat pemerintahannya yang terbentang dari utara hingga ke selatan di sini terdapat dua anak sungai Ciliwung, Namun ada juga Kali Besar yang terbentang luas namun dibelah oleh sungai Ciliwung.

Di sebelah kiri tempat Hotel Omni Batavia sekarang juga terdapat Kali Besar Barat dan Kali Besar Timur dan

Di tengah-tengah muara sungai terletak Jembatan Gantung Kota Intan yang telah berusia ratusan tahun. Jembatan ini merupakan jembatan tarik/jungkat, Jembatan ini bisa diangkat pada saat kapal-kapal hendak memasuki Kali Besar, Jembatan ini pada masa jayanya menjadi jalur perdagan tersibuk karena telah menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dunia.

Sekarang kawasan bersejarah perjuangan Fatahillah tersebut telah berubah nama menjadi Kota Tua atau Musuem Batavia sebagai monumen untuk mengenang sejarah lahirnya Jakarta.

Pemerintah DKI Jakarta melalui Keputusan Gubernur pada saat kepemimpinan Anies Baswedan telah menjadikannya sebagai wilayah Cagar Budaya dan destinasi wisata untuk warga ibukota namun tidak jarang warga dari daerah lainpun menjadikan tempat ini salah satu pilihan untuk menikmati liburan bersama keluarga. []

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.