Banten

Kanjeng Sunan Rohmat Suci atau Kiansantang Adalah Penyebar Agama Islam Pada Akhir Abad ke-15 di Garut Jawa Barat

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti | 16 November 2023, 13:51 WIB
Kanjeng Sunan Rohmat Suci atau Kiansantang Adalah Penyebar Agama Islam Pada Akhir Abad ke-15 di Garut Jawa Barat

AKURAT BANTEN - Kanjeng Sunan Rohmat Suci atau Kiansantang adalah penyebar agama Islam pada akhir abad ke 15 – awal abad ke-16 di daerah Timbanganten (sekarang wilayah Kecamatan Samarang, Tarogong, Kadungora dan Leles). Menurut tradisi lisan yang berkembang di daerah Garut, Sunan Godog dipercaya sebagai tokoh salah seorang anak Prabu Siliwangi dari Nyai Putri Subanglarang yang beragama Hindu.

Kemudian diceritakan bahwa Sunan Godog ketika kembali dari tanah suci Mekah membawa sewadah tanah. Sepanjang perjalanan menelusuri daerah-daerah di Indonesia, tanah tersebut berceceran. Pada setiap ceceran tersebut, merupakan tempat lahir ke-9 wali sanga. Pada saat menuju Gunung Suci, tanah yang dibawanya bergoyang atau godeg. Dari sinilah nama Godog lahir, maka dari itu Sunan Rohmat Suci pun terkenal sebagai Sunan Godog.

Makam Godog berjumlah 9 makam, terdiri dari 1 makam Sunan Godog dan 8 makam para pengiringnya. Makam-makam tersebut terletak berurutan dimulai dari pengiring pertama sampai kedepalan, kemudian makam utama Sunan Godog berada di puncak gunung. Ukuran makam hampir sama ± 2m x 1m. Makam utama berada di dalam bangunan berdenah empat persegi panjang dengan p x l m, bercungkup, beratap genteng, berdinding tembok dan berpintu kayu. Di samping kanannya terdapat ruangan tempat menyimpan gundukan tanah keramat yang pernah dibawa Sunan Godog dari tanah Suci Mekah.

Makam Godog merupakan objek wisata ziarah yang paling banyak dan ramai dikunjungi di Kabupaten Garut. Hal ini karena telah menjadi tradisi pada setiap bulan Maulid diadakan upacara tradisional ‘’ Ngalungsur ‘’ atau Turun Zimat. Upacara yang dilakukan setiap tanggal 14 Maulud ini pada intinya dimaksudkan sebagai ungkapan rasa penghormatan dari masyarakat terhadap Sunan Godog, karena jasanya dalam menyebarkan agama Islam di Tatar Garut.

Ungkapan rasa hormat direalisasikan dengan cara ‘’ngamumule’’ (memelihara dan merawat) benda pusaka seperti berbagai bentuk dan jenis keris, kitab Al Qur’an, Cis, Skin dan lain-lain. Benda-benda pusaka ini diturunkan dari dalam peti (kandaga) yang disimpan di atas sebuah ruangan bangunan makam, kemudian dibuka penutupnya dan dikeluarkan satu persatu untuk dicuci dengan air bunga dan digosok dengan minyak wangi supaya tidak berkarat oleh juru kunci.

Sunan Godog atau Kanjeng Sunan Rohmat Suci atau Kiansantang adalah penyebar agama Islam pada akhir abad ke 15 – awal abad ke-16 di daerah Timbanganten (sekarang wilayah Kecamatan Samarang, Tarogong, Kadungora dan Leles). Menurut tradisi lisan yang berkembang di daerah Garut, Sunan Godog dipercaya sebagai tokoh salah seorang anak Prabu Siliwangi dari Nyai Putri Subanglarang yang beragama Hindu.

Kemudian diceritakan bahwa Sunan Godog ketika kembali dari tanah suci Mekah membawa sewadah tanah. Sepanjang perjalanan menelusuri daerah-daerah di Indonesia, tanah tersebut berceceran. Pada setiap ceceran tersebut, merupakan tempat lahir ke-9 wali sanga. Pada saat menuju Gunung Suci, tanah yang dibawanya bergoyang atau godeg. Dari sinilah nama Godog lahir, maka dari itu Sunan Rohmat Suci pun terkenal sebagai Sunan Godog.

Makam Godog berjumlah 9 makam, terdiri dari 1 makam Sunan Godog dan 8 makam para pengiringnya. Makam-makam tersebut terletak berurutan dimulai dari pengiring pertama sampai kedepalan, kemudian makam utama Sunan Godog berada di puncak gunung. Ukuran makam hampir sama ± 2m x 1m. Makam utama berada di dalam bangunan berdenah empat persegi panjang dengan p x l m, bercungkup, beratap genteng, berdinding tembok dan berpintu kayu. Di samping kanannya terdapat ruangan tempat menyimpan gundukan tanah keramat yang pernah dibawa Sunan Godog dari tanah Suci Mekah.

Makam Godog merupakan objek wisata ziarah yang paling banyak dan ramai dikunjungi di Kabupaten Garut. Hal ini karena telah menjadi tradisi pada setiap bulan Maulid diadakan upacara tradisional 'Ngalungsur' atau Turun Zimat. Upacara yang dilakukan setiap tanggal 14 Maulud ini pada intinya dimaksudkan sebagai ungkapan rasa penghormatan dari masyarakat terhadap Sunan Godog, karena jasanya dalam menyebarkan agama Islam di Tatar Garut.

Ungkapan rasa hormat direalisasikan dengan cara 'ngamumule' (memelihara dan merawat) benda pusaka seperti berbagai bentuk dan jenis keris, kitab Al Qur’an, Cis, Skin dan lain-lain. Benda-benda pusaka ini diturunkan dari dalam peti (kandaga) yang disimpan di atas sebuah ruangan bangunan makam, kemudian dibuka penutupnya dan dikeluarkan satu persatu untuk dicuci dengan air bunga dan digosok dengan minyak wangi supaya tidak berkarat oleh juru kunci.


Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.