Banten

Duet Dedi Mulyadi-Purbaya Jadi Sorotan! Syahganda Singgung Pilihan Mengejutkan Purbaya

Abdurahman | 11 Oktober 2026, 00:57 WIB
Duet Dedi Mulyadi-Purbaya Jadi Sorotan! Syahganda Singgung Pilihan Mengejutkan Purbaya
Foto Ilustrasi, Dedi Mulyadi-Purbaya jadi sorotan, Syahganda singgung pilihan mengejutkan Purbaya (Dok Istimewa)

AKURAT BANTEN – Wacana duet Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dengan Purbaya Yudhi Sadewa pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mulai menarik perhatian publik. Namun, di tengah spekulasi yang beredar, aktivis politik senior Syahganda Nainggolan justru meragukan kemungkinan Purbaya bersedia terjun ke panggung politik nasional.

Nama Dedi Mulyadi dan Purbaya menjadi bahan perbincangan setelah beredar meme yang memasangkan keduanya sebagai calon presiden dan calon wakil presiden pada Pilpres 2029 di media sosial.

Kombinasi dua figur dengan latar belakang berbeda itu dinilai menarik untuk dibicarakan. Dedi dikenal sebagai politikus yang memiliki pengalaman panjang di pemerintahan daerah, sedangkan Purbaya dikenal melalui kiprahnya di bidang ekonomi dan kebijakan keuangan.

Namun, apakah tingginya perhatian publik terhadap Purbaya akan membuatnya tertarik mengejar jabatan politik yang lebih tinggi?

Syahganda memiliki pandangan berbeda. Ia menilai Purbaya bukan tipe figur yang sengaja membangun popularitas demi membuka jalan menuju pencalonan presiden atau wakil presiden.

Baca Juga: Momen Langka! Ricky Harun Reunian dengan 2 Legenda Manchester United, Ternyata Demi Sang Buah Hati

Syahganda Ragu Purbaya Bersedia Duet dengan Dedi Mulyadi

Pandangan tersebut disampaikan Syahganda dalam siniar Forum Keadilan TV yang tayang pada 18 September 2026, sebelum dirinya dilantik sebagai Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI.

Menanggapi wacana duet Dedi Mulyadi-Purbaya, Syahganda menilai kemungkinan Purbaya maju dalam kontestasi Pilpres 2029 sangat kecil.

Menurutnya, Purbaya lebih menunjukkan karakter seseorang yang berfokus pada pekerjaan dan bidang keahliannya ketimbang mengejar posisi politik melalui kontestasi elektoral.

Syahganda bahkan membayangkan Purbaya suatu saat lebih memilih kembali mengajar atau menjalani aktivitas akademis dibandingkan sibuk membangun jalan menuju kursi calon wakil presiden.

"Enggak mungkinlah karena Purbaya menurut saya sih dia ya seperti dia bilang walau senang mancing, mungkin satu hari dia ngajar dosen atau apa gitu loh, enggak yakin saya," ujar Syahganda, sebagaimana dikutip Warta Ekonomi.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa keraguan Syahganda bukan semata-mata mengenai kecocokan Purbaya dengan Dedi Mulyadi, melainkan juga menyangkut karakter dan arah karier Purbaya sendiri.

Meski demikian, pandangan tersebut merupakan penilaian Syahganda. Belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa Purbaya telah menolak tawaran berpasangan dengan Dedi Mulyadi, sebab wacana tersebut masih berupa spekulasi dan belum menjadi pencalonan resmi.

Baca Juga: Bukan Cuma Soal Sepak Bola! Kepergian Cristiano Ronaldo Bisa Bikin Keuangan Portugal Guncang

Bukan Tipe Politikus yang Mengejar Popularitas?

Salah satu hal yang disoroti Syahganda adalah perbedaan karakter antara Purbaya dan Dedi Mulyadi.

Dalam pemberitaan Warta Ekonomi, Syahganda menilai Purbaya bukan figur yang secara sengaja memanfaatkan popularitas untuk terus menaikkan posisi politiknya hingga masuk bursa kandidat Pilpres 2029.

Sebaliknya, Dedi Mulyadi telah lama berkiprah di dunia politik. Aktivitasnya sebagai kepala daerah dan kehadirannya di media sosial membuat namanya dikenal luas oleh masyarakat.

Perbedaan itu menjadi salah satu alasan Syahganda tidak yakin Purbaya akan mengikuti jalur politik yang sama.

Ramainya nama seorang tokoh dalam perbincangan politik belum tentu berarti ia ingin maju sebagai kandidat. Dalam kasus Purbaya, Syahganda justru meragukan bahwa popularitas akan mengubah arah pilihan kariernya.

Pandangan ini menarik karena politik elektoral tidak hanya berbicara tentang siapa yang populer atau memiliki angka elektabilitas tinggi. Keinginan pribadi, kesiapan menghadapi kontestasi, dukungan partai politik, serta kesediaan membangun koalisi juga menentukan kemungkinan seseorang maju sebagai kandidat.

Dengan demikian, isu duet Dedi-Purbaya belum bisa dibaca sebagai tanda bahwa keduanya sedang mempersiapkan langkah menuju Pilpres 2029.(**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman