Indonesia Diminta Waspada Usai Pertemuan Trump-Xi Jinping di Beijing, Ada Apa?

AKURAT BANTEN - Pertemuan tingkat tinggi antara Donald Trump dan Xi Jinping di Beijing semestinya menjadi penanda membaiknya hubungan Amerika Serikat dan China.
Namun yang muncul justru gambaran berbeda, yakni stabilitas dua kekuatan besar yang berpotensi mengorbankan kepentingan negara-negara menengah, termasuk Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.
Donald Trump meninggalkan Beijing dengan sejumlah pernyataan positif, tetapi tanpa hasil konkret yang signifikan.
Di sisi lain, Xi Jinping dinilai berhasil meraih beberapa keuntungan strategis. Reuters menyebut KTT tersebut menghasilkan 'stabilitas dan kebuntuan', sebuah reset diplomatik yang penuh simbol tetapi miskin hasil nyata.
Baca Juga: PTKIN Ciptakan Alat Deteksi Halal Portabel, Bisa 'Cium' Kandungan Babi dalam Makanan
Dalam pembicaraan tertutup, Xi disebut memperingatkan Trump bahwa kesalahan dalam menangani Taiwan bisa membawa hubungan kedua negara menuju konflik yang "berbahaya".
Trump sendiri memilih tidak memberikan komentar terbuka terkait isu tersebut setelah pertemuan berlangsung.
Pada kesempatan itu, Xi juga memperkenalkan istilah baru untuk menggambarkan hubungan AS-China, yakni "stabilitas strategis konstruktif," yang menggantikan istilah era Joe Biden, yaitu "persaingan strategis."
Perubahan istilah tersebut, yang menurut laporan diterima Trump secara prinsip, dinilai memiliki makna lebih besar daripada yang tampak di permukaan.
Baca Juga: Rupiah Terpuruk dan IHSG Ambles 4 Persen, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Bagi Indonesia, KTT ini memperlihatkan bahwa Washington dan Beijing kini tampak lebih fokus mengelola rivalitas mereka ketimbang benar-benar menyelesaikannya.
Pendekatan itu dilakukan dengan syarat yang menguntungkan kepentingan masing-masing pihak.
Risiko bagi Asia Tenggara adalah isu-isu kawasan, khususnya keamanan maritim dan sengketa Laut China Selatan, bisa menjadi prioritas kedua demi menjaga stabilitas hubungan dua negara adidaya tersebut.
Indonesia sejak lama berusaha menghindari posisi terjebak di tengah rivalitas China dan Amerika Serikat.
Kebijakan luar negeri Jakarta selama ini bertumpu pada prinsip otonomi strategis, sentralitas ASEAN, serta sikap nonblok.
Namun pendekatan penyeimbangan tersebut semakin sulit diterapkan ketika negara-negara besar mencoba meredakan ketegangan melalui diplomasi tingkat elit, sementara berbagai persoalan kawasan yang belum selesai justru dibiarkan tanpa solusi.
Sengketa Laut China Selatan menjadi contoh paling nyata.
Secara resmi, Indonesia menegaskan diri bukan sebagai negara pengklaim di Laut China Selatan.
Meski demikian, "garis sembilan titik" China bersinggungan dengan zona ekonomi eksklusif Indonesia di sekitar Kepulauan Natuna.
Kondisi ini membuat Jakarta ikut terseret dalam sengketa bersama Filipina, Malaysia, dan Vietnam.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Anies Baswedan Disarankan Masuk Kabinet Prabowo, Syahganda Sampai Sebut Posisi Menteri Ini!
- 2Bukan Cuma Gibran, Ahmad Ali Ungkap Kaesang Mulai Diproyeksikan PSI Jadi Presiden
- 3Duet Dedi Mulyadi-Purbaya Jadi Sorotan! Syahganda Singgung Pilihan Mengejutkan Purbaya
- 4Mahfud MD Bongkar Rencana Pergantian Listyo Sigit yang Sempat Tertunda, Nama Gibran Ikut Muncul
- 5CPA Days 2026 Digelar di BINUS Alam Sutera, IAPI Dorong Talenta Akuntan Publik Kuasai AI
- 6Gibran dan Kemendikdasmen Diadukan ke Bareskrim soal Suket SMA, Bola Panas Usai Putusan MK
- 7Liverpool Dihantam Badai Cedera Jelang Hadapi Man City, Isak dan Gakpo Terancam Absen!
- 8Gaji Wantimpres Rp76,5 Juta Disebut Receh oleh Rocky Gerung, Responsnya Bikin Penasaran!
- 9Bukan Cuma Soal Sepak Bola! Kepergian Cristiano Ronaldo Bisa Bikin Keuangan Portugal Guncang
- 10Nasib Cristiano Ronaldo di Timnas Portugal di Ujung Tanduk: Skorsing 6 Bulan Mengintai Usai Tinggalkan TC







