Banten

Rupiah Melesat Tipis, Ketidakpastian Politik AS Jadi Pemicu Utama

Moehamad Dheny Permana | 30 September 2025, 19:50 WIB
Rupiah Melesat Tipis, Ketidakpastian Politik AS Jadi Pemicu Utama

Akurat Banten - Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menunjukkan sinyal positif di tengah ketidakpastian global.

Mata uang Garuda ditutup menguat tipis pada perdagangan Selasa, 30 September 2025, didorong oleh meningkatnya keyakinan pasar bahwa Kongres Amerika Serikat (AS) bakal kesulitan mencegah ancaman penutupan pemerintahan atau government shutdown.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, menilai sentimen politik di Negeri Paman Sam berperan besar dalam mendorong penguatan rupiah.

“Kongres memiliki waktu hingga tengah malam, 30 September (04.00 GMT, Rabu) untuk mengesahkan RUU anggaran dan menghindari penutupan ratusan lembaga federal,” ungkapnya.

Baca Juga: Besaran Uang Pensiun Sri Mulyani Sebagai Mantan Menteri Keuangan Sebulan Sekali, Taspen Serahkan Secara Meriah

Menurut Ibrahim, RUU anggaran yang baru saja disetujui Dewan Perwakilan Rakyat AS dengan dukungan Partai Republik kini menghadapi hambatan serius di Senat.

Meski Partai Republik menguasai 53 kursi, jumlah itu belum cukup untuk mencapai batas minimal 60 suara yang dibutuhkan agar rancangan anggaran dapat lolos.

Situasi ini semakin pelik setelah pertemuan bipartisan antara pemimpin Kongres dengan Presiden Donald Trump sehari sebelumnya tak membuahkan hasil berarti.

Baca Juga: Momen Langka! PM Netanyahu Minta Maaf ke Qatar atas Serangan Rudal Israel di Doha, Janji Tak Akan Terjadi Lagi

Ketidaksepakatan terutama mencuat pada alokasi dana untuk program kesehatan dan kesejahteraan sosial, dua isu sensitif yang kerap memicu tarik-menarik politik di Washington.

Bagi pasar global, kebuntuan politik di AS bukan sekadar drama legislatif.

Ibrahim menegaskan bahwa penutupan pemerintahan berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi domestik Amerika, memperlambat pertumbuhan, bahkan menunda publikasi data penting seperti Non Farm Payrolls (NFP) yang seharusnya dirilis Jumat (3/10).

“Gedung Putih juga terlihat memperingatkan bahwa ribuan pekerjaan pemerintah dapat dihapus jika terjadi penutupan, sebuah skenario yang menandakan pelemahan lebih lanjut di pasar tenaga kerja,” tambahnya.

Sinyal ketidakpastian itu justru memberi dorongan bagi rupiah.

Di pasar spot, rupiah ditutup menguat 15 poin atau 0,09 persen ke level Rp16.665 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.680 per dolar AS.

Namun, berbeda dengan pasar spot, nilai kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia justru mencatat pelemahan tipis.

Kurs JISDOR hari Selasa tercatat di angka Rp16.692 per dolar AS, lebih lemah dibanding posisi sehari sebelumnya Rp16.680 per dolar AS.

Perbedaan arah ini mencerminkan masih rapuhnya stabilitas rupiah di tengah derasnya sentimen global.

Meski penguatan rupiah relatif kecil, pasar menilai dinamika di Washington akan terus menjadi faktor penentu utama.

Jika Kongres gagal mencapai kesepakatan, volatilitas diperkirakan meningkat dan investor akan mencari aset lindung nilai yang lebih aman.

Sebaliknya, jika kompromi politik tercapai, tekanan terhadap rupiah bisa kembali mencuat seiring ekspektasi normalisasi ekonomi AS.

Bagi pelaku pasar domestik, kondisi saat ini menuntut kewaspadaan tinggi.

Rupiah memang mendapatkan angin segar dari ketidakpastian politik AS, namun tanpa fundamental yang kuat di dalam negeri, penguatan tersebut berisiko hanya bersifat sementara.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.