Banten

Wamenhaj Tegaskan Petugas Haji Wajib Fokus Melayani Jamaah Bukan Ikut Menunaikan Ibadah

Moehamad Dheny Permana | 31 Januari 2026, 20:46 WIB
Wamenhaj Tegaskan Petugas Haji Wajib Fokus Melayani Jamaah Bukan Ikut Menunaikan Ibadah

Akurat Banten - Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan kembali bahwa peran utama petugas haji adalah memberikan pelayanan maksimal kepada jamaah, bukan memanfaatkan status penugasan untuk ikut berhaji.

Pernyataan tersebut disampaikan Dahnil saat memberikan arahan dalam acara pengukuhan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi yang digelar di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

Menurut Dahnil, pemerintah ingin memastikan bahwa seluruh petugas yang diberangkatkan benar-benar memiliki niat dan komitmen penuh sebagai pelayan jamaah, bukan sekadar menumpang kesempatan untuk beribadah haji.

“Kami ingin memastikan bahwa petugas haji itu niat utamanya memang untuk bertugas, bukan orang-orang yang nebeng naik haji, karena mereka sudah dilatih cukup lama sebagai sebuah tim,” ujar Dahnil.

Baca Juga: Polisi Telusuri Asal Tabung Whip Pink di Apartemen Lula Lahfah Meski Kasus Dihentikan

Ia menjelaskan bahwa para petugas telah melewati proses seleksi dan pembinaan yang panjang agar mampu bekerja secara profesional dalam melayani jutaan jamaah haji Indonesia di Tanah Suci.

Sebanyak ratusan petugas PPIH Arab Saudi diketahui telah menjalani pendidikan dan pelatihan intensif selama 20 hari secara langsung di Asrama Haji Pondok Gede.

Setelah pelatihan tatap muka tersebut, para petugas masih harus mengikuti pendidikan lanjutan secara daring selama 10 hari sebagai bagian dari penguatan kompetensi.

Dahnil mengungkapkan bahwa latar belakang petugas haji tahun ini sangat beragam, mulai dari tenaga medis, aparat keamanan, jurnalis, hingga kalangan akademisi dan profesor.

Meski berasal dari profesi yang berbeda-beda, seluruh petugas diwajibkan melebur dalam satu identitas yang sama, yakni sebagai pelayan jamaah haji Indonesia.

Ia menekankan bahwa setiap petugas harus melepaskan atribut dan status sosial yang melekat pada dirinya selama menjalankan tugas di Tanah Suci.

Dalam konteks pelayanan, Dahnil menegaskan tidak ada perlakuan khusus atau keistimewaan bagi siapa pun, karena seluruh petugas memiliki tanggung jawab yang setara.

“Ketika bertugas melayani tamu-tamu Allah Subhanahu Wa Ta’ala, semua harus menanggalkan identitasnya dan bekerja dalam satu barisan,” tegasnya.

Baca Juga: Gus Yahya Nilai Langkah Indonesia Masuk Board of Peace Jadi Jalan Strategis Bela Palestina

Ia berharap pendekatan tersebut dapat menjawab berbagai kritik publik yang selama ini muncul terkait dugaan adanya petugas yang hanya ingin memanfaatkan kesempatan berhaji.

“Nah kita harapkan dengan pola ini kita bisa menjawab kritik publik selama ini untuk menghindari ada orang-orang yang nebeng naik haji,” kata Dahnil.

Lebih lanjut, Dahnil menjelaskan bahwa penerapan pendidikan semi militer selama pelatihan bertujuan membentuk kedisiplinan, kekompakan, dan sistem komando yang jelas.

Menurutnya, pola pelatihan tersebut penting agar para petugas mampu bekerja cepat dan terkoordinasi dalam menghadapi berbagai situasi di lapangan.

Dengan disiplin dan kekompakan yang terbangun sejak awal, pelaksanaan tugas di Tanah Suci diharapkan dapat berjalan lebih tertib dan efektif.

Dahnil juga mengingatkan agar para petugas tidak menempatkan diri sebagai jamaah selama menjalankan tugas pelayanan.

Ia menyinggung adanya pengalaman pada musim haji sebelumnya, di mana masih ditemukan petugas yang justru meminta dilayani.

“Jadi jangan kemudian mereka memposisikan diri sebagai jamaah, karena banyak kejadian sebelumnya petugas haji malah minta dilayani,” ujar Dahnil.***

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.