Banten

Rupiah Hampir Tembus Rp17.000, Menkeu Yakin Penguatan Tinggal Menunggu Waktu

Moehamad Dheny Permana | 23 Januari 2026, 06:18 WIB
Rupiah Hampir Tembus Rp17.000, Menkeu Yakin Penguatan Tinggal Menunggu Waktu

Akurat Banten - Nilai tukar rupiah yang sempat mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat, namun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi tersebut bersifat sementara.

Pada penutupan perdagangan di Jakarta, rupiah tercatat melemah ke posisi Rp16.955 per dolar AS, namun pemerintah menilai tekanan ini tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.

Purbaya menekankan bahwa arah pergerakan mata uang sangat ditentukan oleh kekuatan dasar ekonomi suatu negara.

Menurutnya, kondisi perekonomian Indonesia masih berada di jalur yang solid dan menunjukkan daya tahan yang baik di tengah gejolak global.

Salah satu indikator yang ia soroti adalah kinerja pasar saham domestik yang justru mencatatkan rekor tertinggi baru.

Indeks Harga Saham Gabungan pada penutupan perdagangan Senin sore berhasil menembus level 9.133,87 dan mencetak All Time High.

Purbaya menilai capaian tersebut menjadi sinyal kuat adanya kepercayaan investor, khususnya dari luar negeri, terhadap prospek ekonomi Indonesia.

“IHSG All Time High, kan? Kalau indeks naik, pasti ada aliran asing masuk ke situ juga,” ujar Purbaya.

Ia menambahkan, lonjakan indeks tidak mungkin terjadi tanpa dukungan arus dana besar dari investor global.

“Nggak mungkin masuk sendiri yang bisa mendorong ke level seperti itu,” lanjutnya.

Dengan masuknya dana asing ke pasar keuangan domestik, suplai dolar AS diperkirakan akan meningkat dalam waktu dekat.

Kondisi tersebut diyakini akan menjadi faktor pendorong penguatan rupiah setelah tekanan yang terjadi belakangan ini.

“Jadi, ini tinggal tunggu waktu saja rupiahnya menguat, karena suplai dolar akan bertambah,” kata Purbaya.

Di sisi lain, ia membantah anggapan bahwa pelemahan rupiah dipicu isu politik atau kebijakan, khususnya terkait wacana penunjukan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.

Baca Juga: Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Pohon Tumbang di Sejumlah Wilayah Kota Tangerang

Menurut Purbaya, spekulasi tersebut muncul dari kekhawatiran sebagian pihak soal independensi bank sentral.

Ia menilai anggapan tersebut berlebihan dan tidak memiliki dasar yang kuat.

“Orang berspekulasi ketika Thomas ke sana, independensi BI hilang. Saya pikir nggak akan begitu,” tegasnya.

Purbaya memastikan pemerintah tetap menghormati independensi Bank Indonesia dalam menjalankan kebijakan moneter.

Sebagai bendahara negara, ia menyatakan komitmen untuk terus memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Langkah tersebut mencakup upaya menjaga stabilitas makro, mempercepat pertumbuhan ekonomi, serta memperkuat kepercayaan pasar.

Meski optimistis, data perdagangan menunjukkan rupiah pada hari itu melemah 68 poin atau sekitar 0,40 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.887 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah juga tidak lepas dari faktor eksternal yang tengah membayangi pasar keuangan global.

Pengamat pasar mata uang dan aset digital Ibrahim Assuaibi menilai sentimen global masih menjadi faktor dominan.

Ia menyebut ancaman tarif sebesar 10 persen dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap delapan negara Eropa turut memicu ketidakpastian.

Kebijakan tersebut dikaitkan dengan penolakan negara-negara Eropa atas rencana Washington mengakuisisi Greenland.

Baca Juga: Heboh Kabar Rapel Kenaikan Gaji Pensiun 2026, Taspen Akhirnya Buka Suara: Simak Fakta Resminya!

Selain itu, pasar juga masih diliputi keraguan terkait arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.

Investor global mempertanyakan apakah Federal Reserve benar-benar akan memangkas suku bunga dua kali sepanjang tahun ini.

Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.***

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.