Banten

Bloomberg Intelligence Optimistis Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh hingga 2026 di Tengah Tekanan Pasar Keuangan

Moehamad Dheny Permana | 6 Januari 2026, 20:12 WIB
Bloomberg Intelligence Optimistis Ekonomi Indonesia Tetap Tangguh hingga 2026 di Tengah Tekanan Pasar Keuangan

Akurat Banten - Bloomberg Intelligence memperkirakan ekonomi Indonesia akan bergerak relatif stabil pada 2026, dengan laju pertumbuhan produk domestik bruto diproyeksikan berada di angka 5,0 persen secara tahunan, sementara inflasi diperkirakan tetap terjaga pada level moderat sekitar 2,75 persen year on year.

Proyeksi tersebut mencerminkan keyakinan bahwa fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat untuk menopang aktivitas ekonomi, meskipun berbagai tantangan global dan domestik terus membayangi kinerja pasar keuangan Indonesia.

Dalam laporan berjudul Indonesia in Focus Review and Outlook for 2026, Bloomberg Intelligence menyoroti potensi tekanan berkelanjutan di pasar obligasi akibat tingginya kebutuhan penerbitan surat utang pemerintah serta meningkatnya risiko fiskal.

Bloomberg Intelligence menyampaikan bahwa secara agregat pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap berada di kisaran 5,0 persen sepanjang periode 2025 hingga 2027, dengan peluang terjadinya resesi dalam 12 bulan ke depan dinilai sangat kecil, yakni hanya sekitar 3 persen.

“Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan kisaran 5,0 persen pada 2025 hingga 2027, dengan probabilitas resesi dalam 12 bulan ke depan hanya sekitar 3 persen,” tulis Bloomberg Intelligence.

Di sisi pasar saham, laporan tersebut mencatat kinerja Indeks Harga Saham Gabungan yang mencolok sepanjang 2025, di mana IHSG berhasil menguat hingga 22 persen dan menjadi capaian tahunan terbaik sejak 2014.

Bloomberg menilai penguatan signifikan tersebut tidak lepas dari meningkatnya partisipasi investor ritel domestik yang semakin aktif mencari peluang imbal hasil lebih tinggi di tengah dinamika pasar global.

Baca Juga: ALHAMDULILLAH, Kabar Gembira! Rapel Gaji Pensiunan 2026 Cair 10 Januari: Cek Skema dan Aturan Terbaru dari Taspen

“Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya partisipasi investor ritel domestik yang mencari imbal hasil lebih tinggi,” ungkap Bloomberg Intelligence dalam laporannya.

Berbanding terbalik dengan pasar saham, pasar obligasi pemerintah justru menghadapi tekanan yang cukup besar, terutama akibat menyusutnya minat investor asing terhadap Surat Berharga Negara.

Arus dana asing ke pasar SBN dilaporkan hampir sepenuhnya terkikis, dengan net inflow merosot tajam menjadi hanya 25 juta dolar Amerika Serikat dari posisi puncaknya yang sempat mencapai 4,6 miliar dolar AS pada Agustus 2025.

Bloomberg menilai kekhawatiran terhadap prospek fiskal Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang mendorong investor global menarik dana mereka dari pasar obligasi domestik.

“Kekhawatiran terhadap outlook fiskal mendorong investor global menarik dananya dari pasar obligasi Indonesia,” tulis Bloomberg.

Tekanan juga tercermin pada pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat melemah hingga menyentuh level terendah dalam delapan bulan terakhir di kisaran Rp16.790 per dolar AS.

Pelemahan rupiah tersebut terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap defisit anggaran yang mendekati batas maksimal 3 persen terhadap PDB.

Baca Juga: Sidang Perdana Nadiem Makarim Disorot Karangan Bunga, Dukungan Publik Mengiringi Dakwaan Korupsi Digitalisasi Pendidikan

Meski demikian, Bloomberg Intelligence mencatat Bank Indonesia tetap optimistis dan menargetkan nilai tukar rupiah dapat kembali berada di kisaran Rp16.500, bahkan berpotensi menguat hingga Rp16.400 per dolar AS pada 2026.

“Bank Indonesia memberi sinyal pelonggaran kebijakan secara hati-hati pada 2026, dengan stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas utama,” tulis laporan tersebut.

Dari sisi investasi, Bloomberg mencatat realisasi penanaman modal di Indonesia berhasil mencapai target sebesar Rp1.905 triliun sepanjang 2025.

“Pencapaian ini menunjukkan daya tarik Indonesia di mata investor tetap terjaga, meski volatilitas pasar meningkat,” sebut Bloomberg Intelligence.

Sektor ekonomi kreatif menjadi salah satu sorotan positif, setelah berhasil menarik investasi asing senilai Rp132 triliun dan mencatat pertumbuhan PDB yang melampaui laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Bloomberg menilai kinerja sektor kreatif tersebut berpotensi menjadi penopang penting bagi prospek ekonomi Indonesia dalam jangka menengah, terutama di tengah tantangan global yang terus berkembang.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.