Bali Porak-Poranda, Sungai Meluap Usai Banjir Mematikan Warga Mulai Bangkit dari Krisis

AKURAT BANTEN - Bali baru-baru ini diguncang bencana banjir dan longsor yang sangat parah, yang disebut-sebut sebagai salah satu terburuk dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Beberapa wilayah terdampak parah, terutama sekitar Denpasar dan sejumlah kabupaten lainnya. Kini, setelah masa darurat, warga mulai melakukan pemulihan.
Namun ada satu hal yang menjadi perhatian utama: beberapa sungai sudah melampaui batas aman (crisis point), memperlihatkan kerentanan yang selama ini terabaikan.
Berikut detail kondisi terkini, tantangan yang dihadapi, dan dampaknya, termasuk pelajaran yang bisa diambil oleh Banten.
Baca Juga: Selain Bantuan Logistik, Polri Utamakan Pemulihan Mental Korban Banjir di Bali
Hujan deras selama 24 jam memicu aliran deras air yang menyebabkan beberapa sungai meluap, merendam pemukiman, merusak infrastruktur jalan dan jembatan, serta memicu tanah longsor.
Korban jiwa terus bertambah. Dilaporkan sekitar 16 orang tewas di Bali, dengan beberapa korban masih dalam pencarian.
Ribuan orang terdampak, harus mengungsi ke tempat aman seperti sekolah, masjid, atau bangunan umum lainnya.
Banyak rumah terendam, dan fasilitas umum mengalami kerusakan.
Baca Juga: Bali Berduka: BNPB Tetapkan Status Darurat Bencana, Usai Banjir Bandang Merenggut 9 Nyawa
Salah satu penyebab utama banjir hebat ini adalah meluapnya sungai‐sungai yang tidak mampu menampung air hujan ekstrem.
Beberapa sungai telah mencapai atau bahkan melewati titik krisis.
Sungai yang semula diharapkan sebagai jalur alami aliran air kini menjadi ancaman karena kapasitasnya melampaui ambang aman.
Infrastruktur untuk penanganan air (seperti drainase, tanggul sungai, dan pengerukan sungai) yang kurang memadai makin memperparah risiko.
Banyak area tidak memiliki saluran air yang cukup besar atau penahan banjir.
Warga secara mandiri mulai membersihkan rumah, jalan, dan fasilitas umum dari lumpur dan puing. Banyak yang membantu tetangga atau komunitas setempat dalam gotong royong.
Pemerintah daerah menyalurkan bantuan, mengirimkan personel gabungan (tim SAR, petugas kebersihan, dan lainnya) untuk membantu evakuasi, pembersihan, dan perbaikan awal.
Akses ke beberapa fasilitas vital dan jalan mulai dipulihkan, meskipun beberapa ruas masih tertutup karena rusak atau tertimbun material longsor.
Baca Juga: 2 Meninggal Dunia karena Bali Banjir 10 September, Ratusan Lainnya Rela Lakukan Ini Demi Hidup
Beberapa pihak menyoroti bahwa banjir bukan semata karena hujan deras, tapi juga karena faktor manusia dan pembangunan:
Konversi lahan yang sembarangan, penebangan hutan, dan pembangunan infrastruktur wisata yang tidak mempertimbangkan daya tampung air dan aliran sungai.
Kurangnya drainase dan sistem peringatan dini yang efektif.
Banyak sungai yang tidak terawat dengan baik atau tersumbat sampah.
Baca Juga: Bali Siap Sambut 13.500 Pelari Internasional dalam Maybank Marathon 2025
Meskipun Bali dan Banten memiliki kondisi geografis yang berbeda, ada pelajaran yang sangat relevan untuk Banten.
Drainase, saluran air, dan tanggul sungai harus dirancang agar mampu menahan volume air hujan ekstrem. Perawatan rutin juga harus dilakukan.
Konversi lahan, pembangunan di daerah bantaran sungai, dan reklamasi tanpa perhatian terhadap dampak air bisa meningkatkan risiko banjir.
Pemerintah daerah perlu memperketat izin dan regulasi tata ruang.
Masyarakat di Banten perlu dilibatkan dalam mitigasi bencana.
Pelatihan, kesiapsiagaan, dan informasi yang jelas akan sangat membantu saat bencana datang.
Seperti di Bali, upaya bersama dari warga, organisasi masyarakat, dan pemerintah sangat penting dalam pemulihan dan membantu korban banjir.
Bali saat ini berada dalam tahap pemulihan setelah banjir dan longsor yang sangat merusak.
Sungai-sungai yang meluap telah menunjukkan bahwa ancaman banjir dari sungai belum ditangani secara optimal.
Baca Juga: Antrean Menuju Bali Mulai Terurai, ASDP Tambah Armada Kapal Besar di Ketapang
Sementara warga dan pemerintah bekerja keras untuk membangun kembali dan memperbaiki, kejadian ini perlu menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana khususnya terkait sungai dan aliran air memerlukan perhatian serius.
Banten pun perlu belajar dari pengalaman Bali ini agar tidak menjadi korban berikutnya dari banjir sungai yang bisa dicegah.
Dengan kesiapan, regulasi yang baik, dan kerjasama semua pihak, risiko bisadiminimalisir.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Anies Baswedan Disarankan Masuk Kabinet Prabowo, Syahganda Sampai Sebut Posisi Menteri Ini!
- 2Bukan Cuma Gibran, Ahmad Ali Ungkap Kaesang Mulai Diproyeksikan PSI Jadi Presiden
- 3Duet Dedi Mulyadi-Purbaya Jadi Sorotan! Syahganda Singgung Pilihan Mengejutkan Purbaya
- 4Mahfud MD Bongkar Rencana Pergantian Listyo Sigit yang Sempat Tertunda, Nama Gibran Ikut Muncul
- 5CPA Days 2026 Digelar di BINUS Alam Sutera, IAPI Dorong Talenta Akuntan Publik Kuasai AI
- 6Gibran dan Kemendikdasmen Diadukan ke Bareskrim soal Suket SMA, Bola Panas Usai Putusan MK
- 7Liverpool Dihantam Badai Cedera Jelang Hadapi Man City, Isak dan Gakpo Terancam Absen!
- 8Gaji Wantimpres Rp76,5 Juta Disebut Receh oleh Rocky Gerung, Responsnya Bikin Penasaran!
- 9Bukan Cuma Soal Sepak Bola! Kepergian Cristiano Ronaldo Bisa Bikin Keuangan Portugal Guncang
- 10Nasib Cristiano Ronaldo di Timnas Portugal di Ujung Tanduk: Skorsing 6 Bulan Mengintai Usai Tinggalkan TC








