Banten

Kuliner Khas 1 Suro, Rasa Tradisi dalam Setiap Suapan

Moehamad Dheny Permana | 26 Juni 2025, 13:46 WIB
Kuliner Khas 1 Suro, Rasa Tradisi dalam Setiap Suapan

Akurat Banten - Malam 1 Suro tak hanya dipenuhi doa dan hening, tapi juga aroma khas dari dapur-dapur tradisional.

Di balik suasana sakralnya, ada sajian-sajian kuliner yang disiapkan penuh makna.

Bukan sekadar makanan, kuliner khas 1 Suro adalah bagian dari ritual budaya, simbol harapan, dan bentuk syukur atas pergantian tahun dalam kalender Jawa.

Salah satu hidangan yang paling lekat dengan malam 1 Suro adalah tumpeng.

Tumpeng yang disajikan biasanya berbentuk kerucut, lengkap dengan lauk pauk seperti urap, ayam ingkung, tempe bacem, telur rebus, dan sambal.

Baca Juga: Waspadai! Ini Larangan di Malam Satu Suro Menurut Adat Jawa, Bukan Sekadar Mitos

Filosofinya dalam sangat kaya: bentuk kerucut menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan, sedangkan lauk pauk melambangkan keberagaman dan harmoni dalam hidup.

Selain tumpeng, ada pula bubur suro, bubur putih dengan berbagai lauk pelengkap seperti abon, kacang, irisan telur, dan kerupuk.

Uniknya, bubur suro sering kali disajikan dalam jumlah ganjil dan dibagikan ke tetangga atau orang sekitar.

Ini adalah bentuk berbagi rezeki dan harapan agar tahun baru Jawa membawa berkah untuk semua.

Tak ketinggalan, ketan hitam dan jenang (bubur manis tradisional) juga sering muncul di malam ini.

Ketan melambangkan kelekatan atau kerukunan, sedangkan jenang berarti pengikat batin.

 Biasanya disajikan dalam upacara tirakatan atau sebagai sesaji dalam ritual pribadi.

Baca Juga: Kisah-Kisah Seram Malam 1 Suro, Ketika Dunia Tak Kasat Mata Menyapa

Yang menarik, banyak keluarga tetap mempertahankan tradisi memasak makanan ini bersama.

Ibu, nenek, hingga anak-anak terlibat dalam proses menyiapkan bahan hingga menghias tumpeng.

Aktivitas ini bukan cuma mempererat ikatan keluarga, tapi juga mengenalkan nilai-nilai budaya sejak dini.

Kuliner khas 1 Suro mengajarkan bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tapi juga tentang ingatan, doa, dan harapan.

Dalam setiap suapan, tersimpan pesan dari masa lalu dan harapan akan masa depan yang lebih baik.

Karena itulah, meski zaman berubah, rasa tradisi ini tetap hidup, hangat, mengikat, dan penuh makna.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.