Banten

Yok Koeswoyo: Sang Legenda Abadi 'The Last Man Standing' Koes Bersaudara

Saeful Anwar | 3 Juni 2025, 13:54 WIB
Yok Koeswoyo: Sang Legenda Abadi 'The Last Man Standing' Koes Bersaudara

AKURAT BANTEN-Yok Koeswoyo: Sang Legenda Abadi 'The Last Man Standing' Koes Bersaudara

Bagi Anda yang tumbuh di era 60-an dan 70-an, nama Koes Bersaudara dan Koes Plus pasti sudah tidak asing lagi.

Mereka bukan sekadar grup musik, melainkan pelopor, inspirator, dan penanda zaman dalam sejarah musik Indonesia.

Lagu-lagu mereka, yang oleh banyak penikmat musik disebut "Timeless Songs", tetap menggaung indah melintasi generasi, membuktikan bahwa karya sejati tak akan lekang oleh waktu.

Baca Juga: Gatot Kies, Sosok Penuh Canda dan Tawa di Balik Harmoni Ungu, Berpulang Selamanya

Di antara para maestro yang telah berpulang, ada satu sosok yang masih berdiri tegak, terus menghirup napas di tengah kita: Yok Koeswoyo.

Dialah "The Last Man Standing" dari keluarga musisi legendaris Koeswoyo.

Peran Krusial Seorang Yok Koeswoyo: Lebih dari Sekadar Pembetot Bass

Yok Koeswoyo, lahir dengan nama Koesroyo bin Koeswoyo pada 2 September 1943 di Tuban, Jawa Timur, adalah anak ketujuh dari sembilan bersaudara Koeswoyo.

Di usia 82 tahun ini, beliau masih menjadi saksi hidup perjalanan panjang Koes Bersaudara dan Koes Plus.

Baca Juga: Idul Adha 2025: Prabowo Borong Sapi Kurban Hampir 1 Ton dari Subang, 3 Ekor Milik Dedi Mulyadi!

Perannya dalam grup musik ini sangatlah vital. Sebagai pembetot bass guitar, Yok Koeswoyo memberikan fondasi ritme yang kuat bagi setiap komposisi.

Namun, kontribusinya jauh melampaui itu. Beliau juga seorang vokalis yang memiliki karakter suara khas, serta seorang pencipta lagu yang sangat produktif.

Menurut berbagai sumber, Yok Koeswoyo telah menciptakan sekitar 400 lagu untuk Koes Plus dan Koes Bersaudara.

Karya-karyanya beragam, tidak hanya terbatas pada genre pop, tetapi juga merambah Pop Jawa, Keroncong, bahkan Pop Melayu, dan Religi.

Baca Juga: Kejar-kejaran di Tol Sidoarjo: Komplotan Pembobol Gudang Rokok Dilumpuhkan Polisi, Dua Orang Tewas Ditembak

Siapa yang tak kenal "Kolam Susu"? Lagu fenomenal ini, yang penuh filosofi tentang kekayaan alam Indonesia, adalah salah satu mahakarya Yok Koeswoyo dari Album Volume 8.

Selain itu, ada juga "Why Do You Love Me" (Album Volume 4) yang digemari banyak orang. Untuk lagu Pop Jawa, "Tul Jaenak" menjadi bukti kepiawaiannya, sementara di ranah Keroncong,

"Demi Kasih Sayangnya" begitu menyentuh hati. Kecintaannya pada Tanah Air juga terwujud dalam serial lagu Nusantara, yang diawali pada Album Volume 5.

Melawan Arus, Menjaga Semangat: Perjalanan Koes Bersaudara dalam Badai

Perjalanan Koes Bersaudara dan Koes Plus bukanlah tanpa rintangan.

Di era Orde Lama, musik mereka sempat dituduh sebagai "antek-antek imperialis" dan bahkan membuat para personelnya mendekam di penjara.

Baca Juga: Niat Puasa Tarwiyah Arafah Idul Adha Dibaca Jam Berapa? Inilah Keutamaannya yang Jarang Orang tahu

Namun, tekad mereka tak goyah. Yok Koeswoyo mengenang bagaimana musik menjadi satu-satunya andalan di tengah ketidakpastian penghasilan.

Saat itu, berkarier sebagai musisi bukanlah pilihan yang menjanjikan. Namun, semangat sang kakak, Tonny Koeswoyo, yang teguh berpendirian, menjadi pemicu bagi Yok dan saudara-saudaranya untuk terus berkarya.

Kegigihan itulah yang membuat Koes Bersaudara dan Koes Plus mampu bertahan dan eksis di blantika musik Indonesia, bahkan meraih berbagai penghargaan.

Salah satunya adalah pengakuan dari Majalah Rolling Stone Indonesia pada tahun 2008, yang menobatkan mereka sebagai salah satu dari The Immortals 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa.

Baca Juga: Bisnis Lokal? Gunakan Strategi Hyperlocal Marketing Biar Makin Laris

 

Kisah Abadi di Balik "The Last Man Standing"

Kini, sebagian besar anggota keluarga Koeswoyo yang juga merupakan pilar Koes Plus dan Koes Bersaudara telah berpulang.

Sebut saja Tonny Koeswoyo (1987), Yon Koeswoyo (2018), John Koeswoyo (2022), Nomo Koeswoyo (2023), dan Murry (2014). Kehadiran Yok Koeswoyo menjadi pengingat akan warisan tak ternilai yang mereka tinggalkan.

Sosok "The Last Man Standing" ini adalah cerminan dari perjuangan panjang seorang musikus tahan banting yang tak henti berkarya demi Tanah Air Indonesia.

Kisah hidupnya yang penuh inspirasi bahkan diangkat ke dalam sebuah film dokumenter berjudul "The Last Man Standing" yang diputar terbatas pada 25 November 2024 lalu di CGV FX Sudirman, Jakarta Pusat.

Baca Juga: 2 Dekade Mengabdi, Dibuang Sepihak: Jerit Buruh Cokelat di Bekasi Tuntut Keadilan!

Film berdurasi 60 menit ini menyoroti perjalanan karier Yok Koeswoyo, dari awal terbentuknya Koes Bersaudara hingga berdirinya Koes Plus pada tahun 1969.

Lagu-lagu Koes Plus dan Koes Bersaudara akan selalu abadi di hati para penggemar di seluruh dunia.

Kehadiran Yok Koeswoyo saat ini adalah berkah. Semoga beliau senantiasa sehat, bahagia, dan terus menjadi inspirasi bagi generasi muda musikIndonesia (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman