Kritik Hasan Tiro Terhadap Demokrasi Indonesia: Demokrasi Primitif

AKURAT BANTEN - Pemikiran Hasan Tiro dalam ulasan ini menarik diikuti. Apalagi di tengah suasana panas Pemilu 2024 tahun ini.
Ulasan ini singkat saja. Dilansir dari akun X Djóuhan @TeukuDjouhan.
Kupasannya dimulai dari tahun 1958, setelah Hasan Tiro mengenyam pendidikan tinggi di Amerika Serikat dan menuliskan pemikirannya.
Baca Juga: Ganjar: Dorong Hak Angket Pada Partai Pendukungnya, DPP Golkar: Belum Saatnya!
"Pada tahun 1958, setelah 8 tahun berada dan kuliah di Amerika Serikat, Hasan Tiro menulis buku yang berjudul Democracy for Indonesia dalam bahasa Inggris dan juga Melayu," katanya, dikutip Akurat Banten, Rabu (21/2/2024).
Dalam buku itu, Hasan Tiro mengatakan, bahwa "Pancasila bukan filsafat atau suatu ideologi yang hidup dalam masyarakat Indonesia".
Hasan Tiro berpendapat bahwa filsafat Islam-lah yang lebih tepat dijadikan ideologi bangsa, karena memiliki akar kuat di masyarakat.
"Tiro juga menolak bentuk ketatanegaraan Republik Indonesia yang bersifat unitaris," ungkapnya.
Menurutnya, pemikiran Hasan Tiro dalam bukunya Demokrasi untuk Indonesia, terdiri dari dua kamar kamar besar. Kamar pertama, berisi tentang suku bangsa dan kedua tentang ideologi Partai Politik.
Baca Juga: Video Mesum Beredar, Kepala Desa di Kabupaten Limapuluh Mengundurkan Diri
"Keterwakilan suku bangsa adalah keterwakilan sebagaimana layaknya lembaga Kongres dalam tatanan negara Amerika Serikat, di mana setiap provinsi memiliki wakilnya di pusat," jelasnya.
"Tiro pun mengatakan bahwa bentuk negara sistem federasi adalah tepat untuk negara keberagaman seperti Indonesia," tambahnya.
Menurutnya, keleluasaan pengelolaan sumber daya alam dan demokrasi lokal kekuatan utama yang membuat negara ini maju.
"Kesalahan pemerintahan ini bukanlah terletak pada apa yang disebutkannya sebagai kesalahan satu suku, yaitu suku Jawa. Namun diakibatkan oleh pemaksaaan susunan negara kesatuan dengan demokrasi yang disebutnya primitif," sambungnya.
Dilanjutkan, bahwa persatuan menurut Hasan Tiro didasarkan pada kesepakatan, dan bukan pada kesamaan budaya dan identitas kebudayaan yang tunggal.
"Namun kesepakatan itu tidak lantas berakibat lahirnya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Suara terbanyak tanpa mempertimbangkan keadaan demografi Indonesia, akan mengancam eksistensi suku bangsa lain yang tidak punya jumlah penduduk besar," tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Pilpres 2029 Berpotensi Hanya Dua Pasangan, Bagaimana Nasib Dedi Mulyadi? Ini Skenarionya
- 2Besok Jadi Sorotan! BEM UI Siapkan Demo 2 Tahun Prabowo-Gibran, Tugu Tani hingga Tugu Proklamasi Disorot
- 3Lionel Messi Bikin Rekor Gila di MLS! Cetak 2 Gol, Pelatih Inter Miami Sampai Menyebutnya Alien
- 4Bukan MU atau Arsenal, 2 Klub Ini Kuasai Rekor Kemenangan Beruntun Premier League!
- 5Analisis Roy Suryo dan Dokter Tifa soal Dokumen Ijazah Jokowi Jadi Sorotan, Apa Fakta Hukumnya?
- 6Wendi Cagur Bikin Geger! Akun Medsos Diduga Dibatasi Usai Suarakan Karhutla, 5 Figur Publik Ikut Disorot
- 7Kabar Terbaru MBG! Siswa Boleh Tambah Makan, Sistem Prasmanan Diuji di 10 Provinsi
- 8Disetujui Prabowo, Siswa Tak Bisa Otomatis Naik Kelas Mulai 2027/2028! Ini Aturan Barunya
- 9PSG Hancurkan Rekor Sempurna Barcelona, Respons Hansi Flick Justru Bikin Publik Heran!
- 10Vietnam Mulai Ketar-ketir! Timnas Indonesia Segera Punya Senjata Baru, Taisei Marukawa Tinggal 2 Tahap




