Banten

Ronaldo Nazario dan Rambut Unik di Piala Dunia 2002: Strategi Cerdas Sebelum Brasil Juara

Viona Sebastian Nolani | 25 Agustus 2026, 12:52 WIB
Ronaldo Nazario dan Rambut Unik di Piala Dunia 2002: Strategi Cerdas Sebelum Brasil Juara
Ronaldo Nazario - instagram/@ronaldo

AKURAT BANTEN - Pada musim panas 2002, saat Piala Dunia untuk pertama kalinya digelar bersama di kawasan Asia, tepatnya Jepang dan Korea Selatan, Ronaldo Nazario bukan hanya menjadi motor utama Brasil dalam merebut trofi emas bergengsi.

Striker bernomor punggung 9 itu juga menghadirkan salah satu momen paling ikonik dalam sejarah sepak bola melalui penampilannya yang tidak biasa di atas lapangan.

Menjelang fase krusial turnamen, Ronaldo Nazario muncul dalam sesi latihan sebelum laga semifinal menghadapi Turki dengan sebagian besar rambut kepalanya dicukur habis.

Ia hanya menyisakan sedikit rambut pendek berbentuk segitiga di bagian depan dahi. Model rambut tersebut langsung menjadi perhatian dunia dan bahkan oleh penggemar Vietnam disamakan dengan gaya rambut "Thằng Bờm".

Baca Juga: Alejandro Balde di Ujung Pintu Barcelona, Manchester United Siap Boyong Bek Kiri Spanyol

Di balik keputusan yang terlihat nyeleneh tersebut ternyata terdapat strategi psikologis yang cukup cerdas.

Ketika itu, Ronaldo sedang mengalami cedera ringan pada hamstring dan berisiko tampil dalam kondisi fisik yang tidak sepenuhnya prima.

Khawatir masalah tersebut diketahui publik, menjadi sorotan media, sekaligus memunculkan kembali kenangan pahit dari final Piala Dunia 1998, ia sengaja memotong rambut untuk mengalihkan perhatian.

Tentang keputusan tersebut, striker Brasil itu menjelaskan bahwa ketika dirinya datang ke lapangan latihan, seluruh perhatian dan pembicaraan media justru tertuju pada gaya rambutnya, bukan kondisi cedera di kakinya.

Baca Juga: Manchester City Rekrut Ayyoub Bouaddi, Pecahkan Rekor Transfer Pemain U19

Situasi itu membuat tekanan mental berkurang sehingga Ronaldo bisa kembali fokus sepenuhnya pada tugasnya sebagai pemain profesional.

Setelah mentalnya kembali kuat, Ronaldo tampil luar biasa di fase gugur. Dalam semifinal kontra Turki, tepat pada menit ke-49, ia menerima umpan dari Gilberto Silva lalu dengan cerdik mengarahkan bola melewati kiper Rustu Recber. Gol tersebut menjadi jalan bagi Selecao untuk melangkah ke partai final.

Pada final yang berlangsung di Yokohama, 30 Juni 2002, Brasil berhadapan dengan Jerman. Ronaldo harus menghadapi Oliver Kahn, penjaga gawang yang kemudian dinobatkan sebagai peraih Bola Emas Piala Dunia. Menit ke-67 menjadi momen penting ketika Ronaldo memanfaatkan bola rebound dari tendangan jarak jauh Rivaldo untuk membuka keunggulan Brasil. Dua belas menit berselang, tepat pada menit ke-79, Ronaldo menerima umpan Kleberson setelah aksi tipuan cerdas Rivaldo sebelum melepaskan tembakan rendah yang keras untuk mengunci kemenangan 2-0.

Brace Ronaldo pada pertandingan final membuat koleksi golnya mencapai delapan sepanjang turnamen. Torehan tersebut mengantarkannya menjadi peraih Sepatu Emas sekaligus membantu Brasil mengamankan gelar Piala Dunia kelima dalam sejarah mereka.

Perjalanan Ronaldo Nazario di Piala Dunia 2002 menjadi bukti kebangkitan luar biasa setelah melewati salah satu fase paling kelam dalam kariernya. Usai kekalahan 0-3 dari Prancis pada 1998 dan insiden kejang misterius sebelum pertandingan final, ia kemudian dihantam dua cedera serius pada lutut kanan ketika memperkuat Inter Milan.

Pada November 1999, Ronaldo mengalami cedera tendon patella dalam pertandingan Serie A menghadapi Lecce dan harus menepi selama 141 hari. Berikutnya, pada 12 April 2000, ketika tampil di leg pertama final Coppa Italia melawan Lazio, cedera tersebut kembali kambuh setelah sebuah gerakan kaki sederhana. Akibatnya, ia harus kembali menjalani masa pemulihan panjang selama 524 hari sebelum akhirnya comeback pada September 2001.

Setelah menghabiskan total 665 hari dalam perjuangan panjang menjalani operasi dan pemulihan tendon patella, karier terbaik Ronaldo seolah berada di ujung tanduk. Namun, berkat tekad yang tidak pernah padam, ia bukan hanya mampu kembali ke lapangan, tetapi juga menorehkan salah satu bab emas dalam sejarah Piala Dunia 2002. Gaya rambut uniknya pun kemudian dikenang sebagai simbol ketangguhan dan ketahanan mental Ronaldo di dunia sepak bola.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.