Fenomena Embun Upas Dieng Kembali Terjadi, Faktor Penyebabnya Terungkap

AKURAT BANTEN - Fenomena frost di Dataran Tinggi Dieng yang lebih dikenal masyarakat sebagai embun upas atau embun es terjadi karena kondisi geografis dan topografi kawasan tersebut berada di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut.
Letak ini membuat tekanan udara serta kerapatan udaranya lebih rendah dibandingkan wilayah dataran rendah sehingga suhu lebih mudah turun drastis.
Selain dipengaruhi faktor ketinggian, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aris Pramudia, menjelaskan bahwa terbentuknya embun upas juga dipicu oleh sejumlah faktor lain.
Baca Juga: Reaktor Nuklir TRIGA 2000 Bandung Kembali Aktif, Begini Peran Strategisnya bagi Indonesia
“Selain karena tiupan angin pada puncak musim kemarau yang membawa udara dingin, langit cerah atau clear sky tanpa tutupan awan juga menjadi penyebabnya. Bentuk wilayah yang cekung juga menyebabkan udara mengendap dan terjebak di dasar cekungan, sehingga tidak dapat mengalir keluar dari cekungan,” jelasnya, dalam Webinar Series ORKM bertajuk “Urgensi Mempertahankan Salju Dieng-Cartenz sebagai Indikator Ekosistem & Lingkungan”, Kamis (9/7/2026).
Aris menambahkan, kondisi angin yang relatif tenang menjelang dini hari turut memperbesar peluang terjadinya penurunan suhu hingga mencapai titik beku.
Fenomena frost di Dataran Tinggi Dieng ini pun kerap berdampak pada sektor pertanian karena menyebabkan kerusakan pada tanaman hortikultura, terutama kentang serta berbagai jenis sayuran.
Baca Juga: Lolos dari 54 Calon, Inilah Sosok Inspiratif Putri Babinsa yang Wakili Banten di Nasional
Karena itu, Aris menekankan pentingnya langkah mitigasi untuk mengurangi dampak frost.
Beberapa upaya yang dapat diterapkan antara lain water sprinkling atau penyemprotan air ke area pertanian, pemanasan langsung pada tanaman dalam cakupan tertentu, mengaduk udara menggunakan hembusan angin buatan agar sirkulasi tetap berjalan, memasang naungan tanaman, memilih lokasi tanam yang lebih aman, hingga menggunakan mulsa sebagai penutup permukaan tanah untuk menjaga kelembapan, menghambat pertumbuhan gulma, sekaligus mempertahankan suhu tanah.
“Di dataran tinggi Dieng, tanaman existing adalah tanaman pertanian hortikultura atau perkebunan dataran tinggi, seperti kentang, sayuran, teh, dan lainnya. Sehingga, disarankan untuk tetap mengembangkan tanaman existing tersebut dengan adanya antisipasi terhadap munculnya frost pada waktu-waktu tertentu,” ungkap Aris.
Lebih lanjut, Aris juga memaparkan hasil kajiannya mengenai potensi pertanian serta penerapan teknologi modifikasi cuaca (TMC) di kawasan Cartenz, Papua Tengah.
Menurutnya, wilayah Cartenz belum memiliki potensi untuk kegiatan pertanian, meski peluang pengembangan teknologi pada masa mendatang tetap terbuka.
Ia menjelaskan bahwa vegetasi yang tumbuh di kawasan Cartenz saat ini didominasi oleh lumut.
Oleh sebab itu, pengembangan teknologi pertanian di daerah tersebut masih menunggu hasil penerapan teknologi di wilayah yang lebih sering mengalami fenomena embun upas, seperti Dataran Tinggi Dieng.
Menurut Aris, penerapan TMC untuk menghasilkan salju di Cartenz diperlukan sebagai salah satu upaya menjaga keberadaan salju abadi yang terus mengalami penyusutan.
Sementara itu, penerapan TMC di Dataran Tinggi Dieng memiliki tujuan berbeda, yakni bukan untuk meningkatkan volume salju, melainkan sebagai langkah antisipasi terhadap kemunculan salju.
“Teknologi dari modifikasi cuaca di Dieng bukan untuk menambah volume salju, tapi menjadi pembelajaran teknologi dalam hal mengantisipasi terjadinya salju. Dan yang menjadi perhatian bersama adalah terdapat konflik kebutuhan adanya frost di Dieng antara sektor pertanian dan sektor pariwisata,” pungkas Aris.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Mahfud MD Soroti OTT KPK di BNPB, Dana Bencana Diduga Bermasalah saat Warga Butuh Bantuan
- 3Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 4Bikin Bangga! Persib Menang atas The Cong-Viettel, Liga Indonesia Kini Tembus 16 Besar Asia
- 5Singgung Asap dan Oksigen, Syahganda Dikritik Pejabat Malaysia! Indonesia Didesak Minta Maaf
- 6Lille Dihajar Arsenal 0-3, tapi Calvin Verdonk Ukir Rekor Bersejarah untuk Indonesia di Liga Champions!
- 7Tangsel Rapi, DPUPR Banten Mulai Bersihkan Kabel Internet Semrawut di Jalan Aria Putra
- 8Man City Dihantam Kasus Finansial, Steven Gerrard Angkat Suara: Bukan Degradasi, Hukuman Ini yang Harus Diterima!
- 9Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 10Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!









