Banten

Kredibilitas Akademisi Indonesia Terancam, Dugaan Manipulasi Riset AI dan Identitas Di ISPPD 2026

Viona Sebastian Nolani | 27 Mei 2026, 16:09 WIB
Kredibilitas Akademisi Indonesia Terancam, Dugaan Manipulasi Riset AI dan Identitas Di ISPPD 2026
Dugaan pemalsuan riset berbasis AI oleh oknum peneliti Indonesia di konferensi internasional Denmark menjadi sorotan publik dan akademisi. (Tangkapan Layar)

AKURAT BANTEN - Dunia akademik Indonesia tengah menjadi sorotan setelah muncul dugaan skandal pemalsuan riset internasional yang menyeret sejumlah oknum peneliti berkewarganegaraan Indonesia.

Kasus tersebut ramai diperbincangkan di media sosial usai dibongkar oleh dosen sekaligus peneliti Universitas Udayana, Ida Bagus Mandhara Brasika, melalui akun Threads miliknya, @mandharabrasika.

Lewat utas yang diunggah pada Senin, 25 Mei 2026, Mandhara mengungkap sederet temuan terkait dugaan praktik curang yang dilakukan peneliti independen bernama Rifaldy Fajar dan Prihantini.

Keduanya diduga berhasil lolos dalam proses seleksi konferensi ilmiah internasional bergengsi, International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Denmark, dengan membawa penelitian palsu yang disebut dibuat menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Baca Juga: Cuaca Ekstrem Ancam Piala Dunia 2026, FIFA Dihantui Panas hingga Badai Petir

Salah satu hal yang paling menyedot perhatian publik dalam utas tersebut adalah dugaan modus penyamaran saat sesi presentasi berlangsung di Eropa.

Menurut hasil penelusuran Mandhara, sejumlah makalah ilmiah didaftarkan menggunakan nama penulis berbeda.

Namun, sosok yang tampil mempresentasikan materi di depan forum disebut merupakan orang yang sama.

Agar tidak dicurigai penyelenggara maupun peserta konferensi, presenter tersebut diduga mengubah penampilan setiap kali tampil di sesi berbeda.

Baca Juga: Trump Ancam Serangan Baru ke Iran, Harga Minyak Dunia Langsung Berbalik Menguat

"Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan name tag," tulis Mandhara dalam utas Threads.

Diduga, cara tersebut dipakai untuk mempresentasikan banyak abstrak penelitian sekaligus demi memperoleh pendanaan atau grant perjalanan luar negeri.

Terungkapnya dugaan manipulasi dalam simposium ISPPD 2026 itu pun memicu keresahan di kalangan akademisi Indonesia.

Banyak pihak menilai tindakan tersebut mencoreng nama ilmuwan Indonesia yang selama ini berkompetisi secara jujur di tingkat internasional.

Baca Juga: Blackout 17 Jam di Sumut Picu Tuntutan Kompensasi ke PLN, Warga Ngaku Rugi Besar

Mandhara juga menyoroti dampak jangka panjang yang bisa dirasakan dunia riset nasional akibat tindakan oknum tersebut.

"Dampaknya fatal. Bukan hanya ke pelaku, tapi semua peneliti dari Indonesia kena getahnya. Kredibilitas Indonesia dipertanyakan," kata Mandhara.

Menurutnya, kasus ini juga berpotensi membuat akses akademisi Indonesia ke forum global menjadi semakin sulit.

"Saat ini, ilmuwan Indonesia di tingkat dunia sangat sedikit jumlahnya. Dengan kejadian ini, akan semakin sulit lagi," sambungnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.