Iran Berduka, Kepala Intelijen IRGC Tewas Dalam Serangan Amerika Serikat dan Israel

AKURAT BANTEN - Kabar duka datang dari Iran setelah Kepala Organisasi Intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Majid Khademi, dilaporkan tewas akibat serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Senin (6/4), IRGC menyebut bahwa Khademi gugur dalam serangan yang terjadi di tengah konflik yang mereka sebut sebagai “perang ketiga yang dipaksakan”.
Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari agresi gabungan antara Amerika Serikat dan Israel.
Baca Juga: Iran Bongkar Tipu Muslihat Washington: Ogah Terjebak Janji Palsu AS-Israel di Selat Hormuz!
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa insiden ini terjadi pada pagi hari waktu setempat, meskipun detail lokasi dan kronologi lengkap belum diungkapkan ke publik.
Menanggapi peristiwa tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, menyampaikan bahwa kematian Khademi merupakan konsekuensi dari apa yang ia sebut sebagai kegagalan strategi militer Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pernyataan resminya, Khamenei menegaskan bahwa kehilangan salah satu tokoh penting di tubuh IRGC tidak akan melemahkan kekuatan militer Iran.
Baca Juga: Perketat Persaingan Pasar AC, DAIKIN Perpanjang Garansi hingga 5 Tahun
“Tindakan pembunuhan dan kejahatan tidak akan mampu menggoyahkan cita-cita yang tulus,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa Iran tetap teguh menghadapi tekanan eksternal, dan menyebut bahwa pihak lawan telah mengalami berbagai kegagalan dalam konflik yang berlangsung.
Insiden ini semakin memperkeruh situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memang telah berlangsung lama, dan beberapa bulan terakhir menunjukkan eskalasi yang semakin tajam.
Baca Juga: Warga Kawasan Kavling DPR Tangerang Keluhkan Drainase Buruk dan Temuan Kabel PLN di Selokan
Pengamat menilai bahwa kematian pejabat tinggi seperti Khademi berpotensi memicu respons lanjutan dari Iran, baik dalam bentuk diplomatik maupun militer.
Meski belum ada pernyataan resmi dari pihak Amerika Serikat maupun Israel, peristiwa tersebut berpotensi memperburuk hubungan antarnegara dan meningkatkan risiko konflik terbuka. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Anies Baswedan Disarankan Masuk Kabinet Prabowo, Syahganda Sampai Sebut Posisi Menteri Ini!
- 2Bukan Cuma Gibran, Ahmad Ali Ungkap Kaesang Mulai Diproyeksikan PSI Jadi Presiden
- 3Duet Dedi Mulyadi-Purbaya Jadi Sorotan! Syahganda Singgung Pilihan Mengejutkan Purbaya
- 4Mahfud MD Bongkar Rencana Pergantian Listyo Sigit yang Sempat Tertunda, Nama Gibran Ikut Muncul
- 5CPA Days 2026 Digelar di BINUS Alam Sutera, IAPI Dorong Talenta Akuntan Publik Kuasai AI
- 6Gibran dan Kemendikdasmen Diadukan ke Bareskrim soal Suket SMA, Bola Panas Usai Putusan MK
- 7Liverpool Dihantam Badai Cedera Jelang Hadapi Man City, Isak dan Gakpo Terancam Absen!
- 8Gaji Wantimpres Rp76,5 Juta Disebut Receh oleh Rocky Gerung, Responsnya Bikin Penasaran!
- 9Bukan Cuma Soal Sepak Bola! Kepergian Cristiano Ronaldo Bisa Bikin Keuangan Portugal Guncang
- 10Nasib Cristiano Ronaldo di Timnas Portugal di Ujung Tanduk: Skorsing 6 Bulan Mengintai Usai Tinggalkan TC








