Banten

Anak 10 Tahun Alami Kanker Ganas, Orang Tua Sebut Kejadian Usai Vaksinasi di Sekolah

Irsyad Mohammad | 21 Januari 2025, 16:45 WIB
Anak 10 Tahun Alami Kanker Ganas, Orang Tua Sebut Kejadian Usai Vaksinasi di Sekolah

AKURAT BANTEN - Kejadian tragis menimpa seorang anak berusia 10 tahun asal Desa Kadugempong, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang. 

Namnya, Siska Alpiah, anak yang seharusnya menjalani aktivitas belajar kini harus terbaring di atas kasur di rumah orang tuanya.

Berdasarkan keterangan dari pihak keluarga, sebelumnya Siska mengikuti vaksinasi sebagai bagian dari program imunisasi di Sekolah.

Tetapi, kini, Siska harus menghadapi kenyataan pahit setelah benjolan besar muncul di tangan kanannya. 

Baca Juga: Warga Ciputat Tangsel Ditemukan Meninggal Gantung Diri di Rumah Kontrakan

Benjolan tersebut, yang awalnya kecil, kini telah mencapai berat 2 kilogram, dan dokter mendiagnosisnya dengan kanker ganas.

Kisah memilukan ini dimulai tiga hari setelah Siska menerima vaksinasi di Sekolah Dasar Kadugempong pada tahun 2021. 

Orang tua Siska, Aceng (40), menceritakan bagaimana sebelumnya anaknya yang sehat dan tanpa riwayat penyakit, tiba-tiba merasakan panas dingin, diikuti dengan munculnya benjolan kecil di tangan kanan. 

"Di sekolah, waktu itu kan disuntik waktu kelas satu, dapet tiga hari, panas dingin, terus ada keluar tu benjol dikit, benjoalan di tangan kanan, setelah di vaksin, panas dingin dulu baru ada benjolan kecil, terus makin gede," katanya.

Baca Juga: Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Evaluasi Menu MBG di Tangsel

"Tiap hari terus menerus makin besar, setelah satu bulan dua bulan sampai sekarang lebih besar," imbuhnya.

Pada tahun 2022 hingga 2023, kata Aceng, Siska masih bisa beraktivitas walaupun sudah jarang mengikuti jam pelajaran di sekolah.

"Masih bisa sekolah walaupun jarang, boro-boro buat nulis, buat makan aja dia kesusahan, harus di suapin sama istri," ucapnya.

Aceng menceritakan bahwa kondisi Siska semakin terpuruk di tahun 2024, ia saat itu sedang bekerja di Bekasi, sehingga tidak dapat intens mendampingi anaknya yang kondisinya semakin parah.

Baca Juga: Pelantikan Pengurus PWI Banten: Membangun Wartawan yang Berwawasan Kebangsaan

"Bulak balik aja kuli di pasar Cibitung, soalnya disini (Padarincang) gak ada perusahaan, kalau di luar mah ada aja rejeki," kata Aceng kepada Akurat Banten. Selasa (21/01/25).

Pada tahun 2024, karena kondisinya semakin memburuk, Siska dibawa ke rumah sakit, yakni RSUD Banten dan Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang, lantaran kondisi Siska semakin memprihatinkan. 

Karena di dua Rumah Sakit tersebut keterbatasan alat dan dokter, kemudian, Siska di bawa dan mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo (RSCM).

Di RSCM, Aceng mendapat saran agar tangan kanan Siska diamputasi, namun hal tersebut ditolak keluarga karena kasihan terhadap anaknya.

Baca Juga: Sampah MBG Tangsel Capai 50 Kilogram Per Hari, Diolah Jadi Pupuk dan Pakan Ternak

"Siska sudah tidak bisa bermain lagi, tidak bisa sekolah, dan sekarang harus menjalani kenyataan pahit. Kami selalu berharap ada keajaiban anak kami bisa sembuh seperti semula lagi," ungkapnya.

Aceng mengungkapkan, benjolan yang semakin membesar di tangan kana Siska, bisa diperkirakan mencapai berat 2 kilogram. 

"Berat benjolan di tangan kanannya sudah kurang lebih 2 kilogram. Ini semua bermula dari vaksinasi yang dilakukan di sekolah," ungkap Aceng, yang kini harus melihat anaknya berjuang melawan penyakit yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Saat disinggung dugaan itu karena vaksin, Aceng menjelaskan benjolan tersebut ada setelah anaknya di vaksin dan mengalami demam selama tiga hari.

Baca Juga: Seorang Lansia di Pamulang Tangsel Tewas Diduga Bakar Diri

"Anaknya bilang ke saya sudah di vaksin, setelah vaksin itu anak saya demam, terus muncul benjolan di sebelah kanan," kata Aceng menegaskan.

Lebih lanjut, kata Aceng, pihak Sekolah tempat Siska belajar, baru datang ke rumahnya di tahun 2024 di pertengahan tahun setelah keadaan Siska memburuk dan menyerahkan uang kurang lebih sebesar Rp 6 juta untuk membantu biaya pengobatan. 

Namun, Aceng merasa bantuan tersebut datang terlambat, dan sempat menolaknya karena lebih memilih untuk pihak sekolah ikut fokus pada kesembuhan anaknya.

"Saat kami jelaskan bahwa kejadian ini bermula setelah vaksinasi, pihak sekolah malah tidak yakin. Mereka bilang kalau vaksin itu hanya disuntikkan ditangan kiri, bukan kanan," tambahnya dengan penuh kesedihan.

Baca Juga: Rifki Hermiansyah Daftar sebagai Calon Ketua BPD HIPMI Banten, Bawa Rekomendasi dari 8 BPC Kabupaten/Kota

"Saya sempat menolak uang itu sebesar 6 juta kurang 25 ribu kalau tidak salah, karena saya orang gak punya pengalaman, jadi saya pengennya pihak sekolah ikut membantu mengobati penyakit anak saya ini," imbuhnya.

Aceng mengaku kecewa karena pihak sekolah tidak memberikan respon bahkan setelah memberikan bantuan tersebut tidak lagi pernah menjenguk anaknya.

"Pas saya sodorkan saran (berupaya membantu mengobati) dan menolak uang itu pihak sekolah diem aja, dan alhamdulillah belum ada kesini lagi dari pihak sekolah," ucapnya.

Kini, kata Aceng, Siska hanya bisa terbaring lemah dan merasakan kesakitan setiap harinya.

Baca Juga: Terungkap! Ibu dari Bayi Perempuan yang Dibuang di Selokan Cikupa Tangerang, Sudah Ditemukan

Bahkan, Siska kata Aceng sering mengalami mimisan, rambut rontok, bahkan gigi atasnya pun ikut copot.

"Siska tiap hari berbaring di kasur, ke kamar mandi juga di rempong (digendong) sama ibunya, mau mandi di rempong, rambut rontok, pendarahan dari hidung biasanya keluar, terus punggungnya sakit, gigi rontok yang atasnya," jelasnya.

Aceng berharap agar pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan perhatian lebih untuk kesembuhan anaknya yang masih berusia 10 tahun tersebut.

"Dari pemerintah Kabupaten Serang ataupun dari desa belum ada apa-apa, tapi pernah dikasih sama kepala desa itu juga melalui rekening kader 100 ribu, pas kami mau naik mobil di Tol serang timur," katanya.

Baca Juga: Menteri Dikti Diduga Arogan dan Sewenang Wenang, Pegawai Kemendikbud Demo Besar besaran

"Saya ingin anak saya sembuh dan kembali bisa menjalani hidup seperti anak-anak lainnya. Semoga ada perhatian dari pemerintah untuk membantu kami," kata Aceng kepada Akurat Banten melalui sambungan telpon.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Serang dengan tegas membantah kabar yang mengaitkan kanker tulang dengan vaksinasi yang diterima oleh Siska Alpiah. 

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Serang, Istianah Haryanti, menjelaskan bahwa klaim tersebut tidak benar.

Menurut Istianah, kanker tulang yang dialami oleh Siska tidak ada kaitannya dengan vaksinasi yang diterima bertahun-tahun lalu.

Baca Juga: Seorang Lansia di Pamulang Tangsel Tewas Diduga Bakar Diri

Saat ini yang terpenting, kata Istianah, adalah kesembuhan bagi anak tersebut dan ia memastikan Siska mendapatkan penanganan medis yang baik.

"Ini kemungkinan besar kasus tumor yg tidak berkaitan dengan vaksinasi. Yang paling penting sekarang anak tersebut mendapatkan penanganan medis yang baik. Kita sedang selidiki kronologis kasus ini," katanya.

Kata Istianah, menegaskan, Dinkes akan memastikan pasien tersebut memiliki jaminan kesehatan BPJS dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.

"Rujukan ke RSCM atau RS Dharmais yang memiliki fasilitas pelayanan kanker yang paripurna," tandasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.