Banten

Masjid Tertua di Kota Medan Yang Bersejarah, Sejak Sultan Deli VII Dibangun Dengan Karya Arsitek Jerman

Saeful Anwar | 3 Desember 2023, 08:34 WIB
Masjid Tertua di Kota Medan Yang Bersejarah, Sejak Sultan Deli VII Dibangun Dengan Karya Arsitek Jerman

AKURAT BANTEN - Masjid Tertua di Kota Medan yaitu Masjid Al Osmani Medan adalah masjid yang dibangun dengan sejarah. Dimana masjid tersebut terletak di Jalan K.L. Yos Sudarso, dan dikenal dengan Masjid Labuhan yang dirancang oleh warga negara Jerman berada pada 21 kilometer dari Lapangan Merdeka yaitu pusat Kota Medan.

Masjid Al-Osmani dibangun pada tahun 1854 oleh Raja Deli ketujuh, yakni Sultan Osman Perkasa Alam dengan menggunakan bahan kayu pilihan. Kemudian pada 1870 hingga 1872 masjid yang terbuat dari bahan kayu itu dibangun menjadi permanen oleh anak Sultan Osman, yakni Sultan Mahmud Perkasa Alam yang juga menjadi Raja Deli kedelapan.

Hingga kini, selain digunakan sebagai tempat beribadah, masjid itu juga dipakai sebagai tempat peringatan dan perayaan hari besar keagamaan dan tempat pemberangkatan menuju pemondokan jemaah haji yang berasal dari Medan Utara. Dan di masjid ini juga terdapat lima makam raja deli yang dikuburkan yakni Tuanku Panglima Pasutan (Raja Deli IV), Tuanku Panglima Gandar Wahid (Raja Deli V), Sultan Amaluddin Perkasa Alam (Raja Deli VI), Sultan Osman Perkasa Alam, dan Sultan Mahmud Perkasa Alam.

Fakta yang menarik tentang masjid ini adalah :

1. Dijuluki Masjid Kuning

Seluruh badan masjid didominasi dengan warna kuning, yang menjadi simbol dari keagungan. Masjid cantik ini lebih sering disebut masjid kuning oleh warga setempat. Bagi etnis melayu di Sumatera Utara warna tersebut juga mengisyaratkan keagungan, kedaulatan dan sakral.

Masjid Kuning Al Osmani ini tidak saja digunakan sebagai tempat beribadah, tapi Sultan Osman Perkasa Alam juga memanfaatkan sebagai sarana berkumpul dengan rakyatnya yang tinggal di Labuhan Deli.

2. Bubur Pedas Sajian Yang Sangat Khas

Jika anda mengunjungi masjid Al-Osmani pada saat bulan puasa, maka sajian bubur pedas akan diberikan secara cuma-cuma, sebagai menu buka puasa selama bulan Ramadhan.

Bubur pedas, adalah makanan tradisional melayu yang kaya akan rempah-rempah dan memiliki cita rasa yang tinggi. Karna itu, makanan ini banyak ditunggu oleh masyarakat setempat.

3. Bertransformasi sebanyak 7 kali.

Meski masjid ini dibangun oleh Sultan Osman Perkasa Alam, namun masjid ini telah dirombak beberapa kali. Hal itu berlangsung sepanjang tahun 1870 hingga 1872 ketika kesultanan Deli dibawah pimpinan Sultan Mahmud. Maka Sultan memperlebar masjid tersebut, dengan kawasan mencapai 2.000 meter, jika ditotal sudah 7 kali perubahan.

4. Berusia sudah 153 tahun

Akhirnya Pemerintah Kota Medan merasa perlu menaikan status masjid Al-Osmani sebagai Cagar Budaya pada tahun 2016 lalu. Uniknya keaslian bangunan yang menjadi objek wisata religi ini tetap dipertahankan.

5. Dirancang oleh arsitektur Jerman

GD Langereis, seorang ahli arsitektur berkebangsaan Jerman. Ia mewujudkan keinginan Sultan Mahmud Perkasa Alam, putra dari Sultan Osman Perkasa Alam, yang mengharapkan tempat beribadah yang megah. Ketika anggota keluarga istana kesultanan Deli masih berada di labuan.

6. Perpaduan Arsitektur 6 Negara

Jika berkesempatan menilik lebih dekat, dari bagian pintu masjid hingga masuk kedalam ruangan ditemukan corak budaya Tiongkok, India, Spanyol, Me;ayu, Eropah dan Timur Tengah, seperti sedang berlibur ke 6 negara sekaligus.(**)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.