Kisah Masa Kejayaan Band Koes Plus di Blantika Musik Pop Indonesia, Yang Kini Sudah Menjadi Kenangan

AKURAT BANTEN - Bila orang yang telah mengenal dan memahami sepak terjang Grup Band “Koes Plus” di Indonesia, pada saat ini pasti sudah merasa tua. Karena seiring berjalannya waktu yang kian berlalu, dimana pada masa-masa itu telah mengingatkan kita dengan lagu yang sederhana tetapi indah dan dapat diterima oleh berbagai kalangan. Baik dari kalangan orang tua, para remaja dan anak-anak sekalipun, semua dapat menikmatinya dan itu semua telah menjadi kenangan yang tak akan kembali lagi. Namun lagu-lagu karyanya masih tetap hidup di setiap hati para penggemarnya. Seperti apa kisahnya, yuks, kita simak ulasannya.
Koes Plus adalah grup musik Indonesia, yang dibentuk pada tahun 1968. Koes Plus sebuah grup musik keluarga merupakan kelanjutan dari grup musik Koes Bersaudara yang memiliki formasi terkenal yaitu Tonny Koeswoyo selaku kibordis, gitaris utama dan bassis, Yon Koeswoyo selaku gitaris ritme dan vokalis utama, Yok Koeswoyo selaku bassis dan gitaris utama, dan Murry selaku drummer, gitaris, perkusionis, dan alat musik pukul tradisional Jawa lainnya.
Baca Juga: Pasca Anis Baswedan dan Muhaimin Iskandar Dilantik, Tim 100 Bakorsi Dikukuhkan
Saat masih bernama Koes Bersaudara, personelnya sempat ditahan pada bulan Juni 1965 di Penjara Glodok, Jakarta, dan dibebaskan menjelang peristiwa G30S/PKI. Mereka dihukum karena sering membawakan lagu-lagu Barat, seperti lagu-lagu The Beatles yang saat itu sangat kondang.
Pemerintah memang melarang grup band menyanyikan lagu ngak ngik ngok (lagu Barat). Terinspirasi saat di penjara, lahirlah beberapa lagu yang terangkum dalam album berjudul To the So Called the Guilties, Jadikan Aku Domba-Mu, dan sebuah album tanpa judul. Ketiganya direkam di atas piringan hitam oleh perusahaan rekaman Dimita Record pada tahun 1966
Sedikit demi sedikit uang hasil pertunjukan dipakai untuk membeli alat-alat musik. Dalam perjalanannya, personel Koes Bersaudara menjadi empat orang, yaitu Tony, Nomo, Yon, dan Yok. Pada tahun 1969, grup band ini berganti nama menjadi Koes Plus dengan masuknya Kasmuri (Murry) menggantikan Nomo. Murry adalah pemain drum dari band Patas.
Baca Juga: Respons Penyerang Timnas Indonesia U-23 Ramadhan Sananta saat Diminta Gabung Manchester United
Album demi album terus diproduksi grup ini, dengan beragam aliran musik. Dari ratusan, bahkan ribuan lagu dihasilkan dan masih selalu dinyanyikan sampai sekarang oleh pencintanya. Kesederhanaan lirik dan irama yang sempat memunculkan istilah lagu ”kacang goreng”, ”musik tiga jurus”, justru membuat grup band ini melesat.
Dalam sebuah wawancara dengan pers pada waktu itu, ketika ditanya soal tersebut, Tony menjawab, silakan buat lagu kacang goreng seperti kami. Nyatanya tidak ada yang bisa sesukses Koes Plus. Grup ini malah memunculkan genre musik yang dikenal dengan nama Koesplusan.
Keseriusan menekuni bidang musik secara total telah membawa Koes Plus menjadi grup band fenomenal dalam sejarah musik di Tanah Air. Sikap Tony yang keras dan rasa mengemong adik-adiknya dalam pilihan bermusik membuat karya-karya mereka dikagumi hingga saat ini.
Dalam bukunya yang berjudul Panggung Kehidupan, Yon menceritakan saat Koes Bersaudara tampil perdana di Yogyakarta tahun 1961-an. Kala itu, Yon dan Yok diiringi band putri arahan A Riyanto bermain di Gedung GKBI. Pertunjukannya sukses dan nama mereka semakin terkenal.
Baca Juga: Sebelum Meninggal, Korban Kebakaran di Pakualam Sempat Teriak Panggil Anaknya
Saat itu, mereka mulai masuk dapur rekaman di sebuah perusahaan rekaman Irama di bilangan Cikini, Jakarta. Hasilnya, satu piringan hitam berisi dua lagu dan sebuah lagi berisi 12 lagu dalam piringan long-play. Lagu-lagu mereka diputar di Radio Republik Indonesia (RRI), satu-satunya radio di Jakarta.
Dalam Jambore Band 1970 yang baru pertama kali diadakan di Jakarta, grup band ini banyak menarik perhatian muda-mudi penontonnya, terutama saat membawakan lagu ”Kembali ke Jakarta”. Acaranya berlangsung di Gelanggang Remaja dalam rangka Dies Natalis Ikatan Mahasiswa Kebayoran.
Tidak hanya menghibur, penampilan Koes Plus di Bandung (5/12/1970), Cirebon (6/12/1970), dan Tasikmalaya (7/12/1970) juga untuk pengumpulan dana bagi kontingen Indonesia yang akan berlaga di Asian Games VI (Bangkok) dan Pomda V Jawa Barat. Pekan Seni Kontemporer 1971, sebuah acara yang cukup bergengsi saat itu, menampilkan Koes Plus dan Titiek Puspa di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Acara yang diprakarsai oleh Dewan Kesenian Jakarta mengambil tema sejauh mana fenomena musik pop di kalangan kaum muda. Keduanya, Koes Plus dan Titiek Puspa, dianggap mewakili karena mereka mencipta dan memiliki kepribadian, kata Frans Harjadi, musikolog anggota Dewan Kesenian Jakarta.
Baca Juga: 4 Rumah Kontrakan di Paku Alam Kebakar, Satu Orang Meninggal Dunia
Di penghujung tahun 1972, remaja Ibu Kota kembali menyesaki Istora Senayan yang berkapasitas 15.000 penonton. Sabtu (30/12/1972) malam, empat band terkenal, yaitu Koes Plus, Panbers, The Mercy’s, dan Freedom of Rhapsodia (Bandung), tampil dalam Jambore Band Safari.
Hiruk-pikuk penonton membuat mereka memainkan alat musik sekeras mungkin, tanpa mengutamakan harmonisasi. Akibatnya, lagu ”Why Do You Love Me”-nya Yon terasa kurang lembut. Meski demikian, di tengah keriuhan itu, Koes Plus terasa masih menonjol dibandingkan band-band yang lain. Jumlah rekaman piringan hitam yang lebih banyak serta lirik lagu yang mudah diingat dan dinyanyikan menjadi keunggulan Koes Plus.
Jika tampil di panggung dalam sebuah acara tidak selalu berakhir menyenangkan. Pada penyelenggaraan Festival Summer 28 di Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta, contohnya. Terinspirasi Woodstock Festival Music di New York, 1967, acara Summer 28, akronim dari Suasana Menyambut Kemerdekaan Ke-28 RI, merupakan konser musik 12 jam di daerah Ragunan, Sabtu (18/8/1973).
Baca Juga: KOMPENI adalah PENJAJAHAN atas Nama INVESTASI
Koes Plus bersama 15 band lain dari berbagai aliran menghibur ribuan penonton yang hadir saat itu. Sayangnya, Minggu dini hari, acara itu harus diakhiri karena terjadi keributan penonton yang tidak puas dengan penyelenggaraannya. Demikian pula saat tampil di Gedung Olahraga Merdeka, Bogor, pada Sabtu (8/6/1974) malam. Penonton sempat melempar kursi dan benda-benda lain di dalam gedung pertunjukan, akibat dari penampilan Koes Plus yang dirasa kurang memuaskan.
Jumlah penontonnya sangat meluap mencapai 10.000-an orang membuat suasana gedung menjadi pengap kekurangan hawa. Sebelumnya Penonton terpaksa menunggu berjam-jam karena pertunjukan baru dimulai pukul 21.10, tidak sesuai dengan jadwal. Untungnya, kericuhan itu bisa diatasi oleh petugas keamanan meski mengakibatkan 20 orang luka-luka dan kerugian atas kerusakan sekitar lebih kurang Rp 1 juta.
Ada sebuah pengalaman menarik yang diungkapkan Yon dalam bukunya. Ketika Koes Plus masih di volume 1, saat pertunjukan di Yogyakarta dan Magelang, ada seorang gadis yang rajin ikut dalam rombongan. Saat rombongan pulang ke Jakarta, gadis itu minta ikut. Alasannya, ingin ke rumah saudaranya. Ternyata, saat di markas Koes Plus di Haji Nawi, Jakarta, ia tidak pernah pergi ke rumah saudaranya. Singkatnya, ”Gadis itu akhirnya menjadi ibu dari anak-anakku, Gerry dan David,” kata Yon.
Dalam sebuah wawancara pers soal lagu Koes Plus yang masih digemari, Yok menjawab, sebuah lagu akan baik dan sukses jika diciptakan dengan jujur dari hati. Lagu itu akan berjiwa dan hidup. Di usianya yang menginjak 50 tahun lebih, Koes Plus tetap fenomenal, karna lagu-lagunya masih tetap hidup di hati para pencintanya.(rm)***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Anies, Ganjar, dan Mahfud Bakal Masuk Istana? Wacana Pemakzulan Gibran Ikut Jadi Sorotan
- 2Denny Indrayana Soroti Sikap Megawati soal Gibran, PDIP Bakal Bergerak atau Pilih Diam?
- 3Mahfud MD Jelaskan Beda Pemakzulan dan Pidana dalam Kasus Gibran, Ini Tahapan Hukumnya!
- 4Mahfud MD Soroti OTT KPK di BNPB, Dana Bencana Diduga Bermasalah saat Warga Butuh Bantuan
- 5Terkenal Vokal, Ini Strategi Baru Abah Saiful Milah Usai Resmi Duduki Kursi Ketua DPRD Kota Tangerang
- 6Ahmad Doli Tantang Hasyim Asy’ari Buka-bukaan! Polemik Pasal Gibran Merembet ke Jabatan Komisaris BUMN, 'Hadiah dari Siapa?'
- 7Singgung Asap dan Oksigen, Syahganda Dikritik Pejabat Malaysia! Indonesia Didesak Minta Maaf
- 8Keluarga Tersangka Korupsi BOP Gugat Kejari Kabupaten Tangerang Lewat Praperadilan
- 9Lille Dihajar Arsenal 0-3, tapi Calvin Verdonk Ukir Rekor Bersejarah untuk Indonesia di Liga Champions!
- 10Michael Carrick di Ujung Tekanan Usai MU Tumbang 0-2, Legenda Inggris Ingatkan Bahaya Pecat Pelatih Lagi!




