Banten

Sejarah Idul Fitri di Masa Penjajahan, Kisah Menarik dan Penuh Makna

Saeful Anwar | 25 Maret 2025, 04:20 WIB
Sejarah Idul Fitri di Masa Penjajahan, Kisah Menarik dan Penuh Makna

AKURAT BANTEN-Perayaan Idul Fitri pada masa penjajahan di Indonesia menyimpan berbagai kisah menarik dan penuh makna.

Di tengah keterbatasan dan tekanan penjajah, umat Islam tetap merayakan hari kemenangan ini dengan khidmat dan penuh suka cita.

Berikut beberapa aspek menarik dari perayaan Idul Fitri pada masa itu:

Baca Juga: Tidak Main-main: Sanksi Tegas! Sikat Warga Yang Buang Sampah ke Sungai di Jabar, Gubernur Ancam Cabut Bansos dan Beasiswa!

1. Semangat Kebersamaan dan Solidaritas

Meskipun dalam kondisi sulit, semangat kebersamaan dan solidaritas antar umat Islam sangat kuat.

Mereka saling berbagi makanan, pakaian, dan kebahagiaan, terutama bagi mereka yang kurang mampu.

Tradisi mudik atau pulang kampung sudah ada sejak masa itu, meskipun dengan sarana transportasi yang terbatas.

Momen ini menjadi ajang silaturahmi dan mempererat tali persaudaraan.

Baca Juga: Cara Cabai Berbuah Banyak Cukup Digoyangkan Pohonnya, Kunci Hemat saat Harga Cabai Mahal

2. Tradisi Lokal yang Kental

Setiap daerah di Indonesia memiliki tradisi unik dalam merayakan Idul Fitri.

Misalnya, di Sumatera Barat, tradisi "balimau" atau membersihkan diri sebelum Idul Fitri sangat populer.

Di Jawa, tradisi "nyekar" atau ziarah kubur menjadi bagian penting dari perayaan Idul Fitri.

Di Minangkabau Idul Fitri disambut meriah. Tua, muda, hingga anak-anak semua berkumpul di sekitar surau yang menjadi tempat masyarakat belajar agama.

Baca Juga: Muhammadiyah Lebaran Tanggal 31 Maret 2025, Ternyata Beda dengan NU?

3. Peran Ulama dan Tokoh Agama

Ulama dan tokoh agama memiliki peran penting dalam memimpin dan membimbing umat Islam dalam merayakan Idul Fitri.

Mereka memberikan khotbah dan nasihat yang membangkitkan semangat keagamaan dan nasionalisme.

Masjid menjadi pusat kegiatan perayaan Idul Fitri, tempat umat Islam berkumpul untuk melaksanakan shalat Id dan mendengarkan khotbah.

Baca Juga: Pemain Timnas Indonesia Joey Pelupessy Berharap Dimainkan di Laga Kontra Bahrain

4. Pengawasan dan Pembatasan oleh Penjajah

Pemerintah kolonial, terutama Belanda, sering kali melakukan pengawasan dan pembatasan terhadap kegiatan keagamaan, termasuk perayaan Idul Fitri.

Namun, umat Islam tetap berupaya merayakan Idul Fitri dengan khidmat dan penuh makna, meskipun dalam keterbatasan.

Pada masa penjajahan Belanda, salat id berjemaah di ruang terbuka diizinkan pertama kali tahun 1929.

Saat itu, salat id dilaksanakan di lapangan terbuka Koningsplein atau Stasiun Gambir, Jakarta Pusat (kala itu masih bernama Batavia).

Baca Juga: Akhirnya Sengketa Tanah Rp3,3 Miliar Mat Solar Rampung! Ini Waktu Pencairan Uangnya ke Keluarga

5. Idul Fitri dan Semangat Perjuangan

Perayaan Idul Fitri pada masa penjajahan juga menjadi momentum untuk membangkitkan semangat perjuangan melawan penjajah.

Ulama dan tokoh agama sering kali menyampaikan pesan-pesan yang membangkitkan semangat nasionalisme dan persatuan umat Islam.

Baca Juga: Kejutan Ramadan: Setelah Richard Lee, dan Bobon Santoso Kini Steven Wongso Mantap Memilih Islam

Perayaan Idul Fitri pada masa penjajahan di Indonesia merupakan bukti keteguhan iman dan semangat kebersamaan umat Islam dalam menghadapi masa-masa sulit.

Tradisi dan nilai-nilai yang diwariskan dari masa itu masih relevan hingga saat ini dan menjadi bagian penting dari identitas budaya Indonesia (**)

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman