Banten

Menelusuri Jejak Masa Lalu Lewat Kartu Pos, Buku Bergambar Fort de Kock Resmi Diluncurkan

Moehamad Dheny Permana | 4 Agustus 2025, 05:03 WIB
Menelusuri Jejak Masa Lalu Lewat Kartu Pos, Buku Bergambar Fort de Kock Resmi Diluncurkan

Akurat Banten - Sebuah karya sejarah visual kembali hadir untuk memperkaya literatur budaya Indonesia.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon secara resmi meluncurkan buku berjudul “Kartu Pos Bergambar Fort de Kock, Padang dan Sekitarnya” dalam sebuah acara yang digelar di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Peluncuran ini menandai hadirnya buku kedua dalam seri Kartu Pos Bergambar Hindia Belanda yang ditulis oleh Fadli Zon bersama Mahpudi.

Sebelumnya, seri perdana yang memuat gambar-gambar dari Buitenzorg (Bogor) telah terbit pada Maret 2025.

Kini, giliran kawasan Sumatera Barat yang menjadi fokus dalam karya dokumentasi sejarah ini.

Buku ini memuat 205 kartu pos bergambar yang berasal dari masa kolonial Belanda, tepatnya dari tahun 1890 hingga 1940.

Kartu-kartu tersebut memvisualisasikan suasana berbagai kota penting di Sumatera Barat seperti Bukittinggi (yang dahulu dikenal sebagai Fort de Kock), Padang, Sawahlunto, Solok, Payakumbuh, dan Padang Panjang.

Baca Juga: KAI Perpanjang Batas Waktu Pembatalan Tiket Hingga 7x24 Jam Usai Anjloknya KA Argo Bromo Anggrek

“Kita bisa membayangkan bagaimana suasana masa lampau, bahkan sebelum kemerdekaan, melalui gambar-gambar yang terekam dalam kartu pos ini,” kata Fadli.

Ia juga menjelaskan bahwa nama Fort de Kock sendiri berasal dari nama Jenderal de Kock, tokoh kolonial Belanda, yang menjadi cikal bakal nama Bukittinggi di masa silam.

Buku ini tak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga menjadi jendela untuk melihat bagaimana lanskap, kehidupan sosial, serta perkembangan peradaban di Sumatera Barat pada masa kolonial.

“Gambaran ini sangat berharga untuk memahami perjalanan sejarah daerah ini,” tambah Fadli.

Ia juga menjelaskan bahwa kartu pos bergambar di masa lalu memiliki peran penting sebagai media komunikasi singkat, jauh sebelum munculnya era digital.

“Dulu, orang mengirim kartu pos untuk memberi kabar singkat, menunjukkan bahwa mereka sedang berada di tempat tertentu, atau sekadar mengungkapkan rindu,” jelasnya.

Kartu pos tersebut biasanya dirancang dengan visual menarik untuk memperkuat pesan yang disampaikan.

Baca Juga: Profesionalisme Dalam Proyek Jembatan Plawad 2 Kota Tangerang Diragukan

Kini, benda-benda ini menjadi artefak sejarah yang bernilai tinggi, bukan hanya dari sisi estetika, tetapi juga dari sisi informasi.

Menurut keterangan resmi dari Kementerian Kebudayaan, buku ini diharapkan dapat menjadi referensi tambahan bagi para pelancong, peneliti, hingga pecinta sejarah yang menjelajahi Sumatera Barat.

“Buku ini membuka kesempatan bagi kita untuk menyelami kembali warisan sejarah yang nyaris terlupakan. Kartu pos menjadi saksi bisu dari dinamika sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Sumatera Barat pada masa lalu,” demikian isi pernyataan tersebut.

Dengan terbitnya buku ini, Fadli Zon berharap publik semakin peduli terhadap pentingnya dokumentasi sejarah visual.

Ia juga menyampaikan rencana untuk terus melanjutkan seri ini dengan wilayah-wilayah lainnya di Indonesia.

Sebuah langkah kecil namun bermakna dalam menjaga ingatan kolektif bangsa.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.