Banten

Asal Usul Sungai Cisadane Tangerang, Sempat Dianggap Suci Masa Kerajaan Pajajaran

Mitha Theana | 18 November 2023, 16:45 WIB
Asal Usul Sungai Cisadane Tangerang, Sempat Dianggap Suci Masa Kerajaan Pajajaran

AKURAT BANTEN - Cisadane merupakan nama sungai yang membelah wilayah Tangerang Raya, terdiri dari Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang.

Konon katanya, siapapun yang menginjakkan kakinya di Tangerang dan minum air Cisadane, maka akan betah berada di Tangerang

Sumber air Sungai Cisadane berasal dari Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dan Taman Nasional Halimun Salak (TNGHS).

Baca Juga: Belum Boleh Pulang ke Indonesia, Luhut Binsar Pandjaitan Rawat Jalan di Singapura

Sungai Cisadane mengalir sejauh 1.047 Km dan Luas DAS Cisadane mencapai 1.343,77 Km2 dari kawasan hulu hingga hilir.

Menurut data yang dihimpun, panjang aliran DAS Cisadane di wilayah Kota Tangerang mencapai 15 Km. Sementara lebarnya rata-rata 100 meter dengan kedalaman 12,5 m, serta debit 70 m3/detik.

Sungai Cisadane merupakan salah satu sungai yang sangat vital bagi warga Tangerang. Sungai ini dimanfaatkan untuk bahan baku air PDAM, pertanian perikanan, perindustrian berskala kecil dan besar.

Dalam sejarahnya, Sungai Cisadane dimanfaatkan oleh pedagang Tionghoa, untuk berlayar masuk ke pedalaman daerah Tangerang.

Baca Juga: Jelang Pemilu 2024, Caleg DPR RI dan DPRD Lebak Gelar Konsolidasi

Abah Mustayah, budayawan Tangerang mengatakan, Cisadane berasal dari bahasa Sunda yang berarti air yang riaknya gemuruh.

"Dahulu arus air sungai tersebut sangat deras dan bersuara gemuruh, sehingga dinamakan Cisadane," katanya, dikutip Sabtu (18/11/2023).

Sungai Cisadane merupakan sungai purba yang telah ada pada zaman Kerajaan Pajajaran. Sungai ini bahkan sempat dianggap suci karena airnya yang jernih berasal dari gunung.

Baca Juga: 7 NEGARA ASIA Pendukung Aksi Zionis Israel, Mereka Buta Mata Buta Hati Atas Terbunuhnya Paling Banyak Anak-anak Dan Perempuan

Sebelum disebut Sungai Cisadane, sungai ini bernama "Sadane", yang dalam bahasa sanskerta berarti "Istana Kerajaan".

Pada masa Kerajaan Pajajaran, Sungai Cisadane digunakan untuk membersihkan diri sebagai jalan menuju kebijaksanaan.

Dari sinilah kata Cisadane diduga berasal. Dalam bahasa Sunda, kata Ci berarti Sungai. Hingga akhirnya dikenal sebagai Cisadane yang berarti sungai yang suci, mengalir menuju jalan kebijaksanaan, berasal dari Istana Kerajaan Pajajaran.

Menurut cerita rakyat, Sungai Cisadane dihuni makhluk gaib buaya putih yang bertugas menjaga sungai tersebut.

Ada catatan yang mengatakan, bahwa buaya putih ini pertama kali terlihat pada tahun 1962. Setelah kemunculannya, terjadi banjir yang menyebabkan air sungai meluap, hingga mencapai enam meter.

Baca Juga: BMC Tangerang Raya Ajak Gen Z Terlibat Aktif di Pemilu 2024

Beberapa warga setempat mengklaim telah melihat buaya putih ini ketika mereka melintasi sungai itu. Mereka menggambarkan ukuran buaya putih tersebut cukup besar.

Akan tetapi, buaya putih bukanlah satu-satunya makhluk gaib yang konon menghuni sungai ini. Ada makhluk gaib lain, yaitu kura-kura berukuran besar dengan tulisan Mandarin di atas cangkangnya.

Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, kura-kura ini tinggal di sekitar Pekong, sebuah tempat yang digunakan untuk perayaan besar oleh masyarakat Tionghoa.

Sampai di sini ulasan singkat tentang Sungai Cisadane. Kritik dan saran terhadap tulisan ini sangat diharapkan.  

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.